SISTEM SIRKULASI (CIRCULATING SYSTEM )
SISTEM SIRKULASI (CIRCULATING SYSTEM )
Pendahuluan
A. Latar
Belakang
Operasi
pengeboran merupakan pekerjaan yang membutuhkan biaya besar atau padat modal,
menggunakan teknologi tinggi dan beresiko tinggi. Para personel yang bekerja
pada operasi pengeboran harus mempunyai pengetahuan yang baik juga tentang
keselamatan kerja. Sehingga operasi pengeboran dapat berjalan lancar, dan
kecelakaan kerja dapat dihindari. Isi mata diklat ini lebih dititik beratkan
untuk memberikan pengetahuan dasar peralatan-peralatan dalam sistem sirkulasi
dan bagaimana perawatannya.
B.
Deskripsi Singkat
Mata Diklat ini
membahas pengertian peralatan sistem sirkulasi, lumpur pengeboran, tempat
mempersiapkan lumpur pengeboran, peralatan-peralatan sirkulasi, tempat
mengkondisikan lumpur, pompa lumpur dan bongkar pasang pompa lumpur.
C.
Manfaat Bahan Ajar Bagi Peserta
Peserta diklat
termotivasi untuk dapat mendalami ilmu pengeboran yang terdapat pada sumber
buku Alat Sirkulasi dan untuk meningkatakan sumberdaya manusia Indonesia yang
seutuhnya, relevan dengan tantangan zaman dunia pengeboran yang mengglobal.
D.
Tujuan Pembelajaran
1.
Kompetensi Dasar
Setelah
mengikuti pembelajaran ini, peserta mampu menerapkan pengertian peralatan
sistem sirkulasi, lumpur pengeboran, dan proses sirkulasi selama operasi
pengeboran serta prosedur bongkar pasang pompa lumpur.
2.
Indikator Keberhasilan Peserta dapat :
a. Menjelaskan pengertian peralatan sistem
sirkulasi.
b. Menjelaskan lumpur pengeboran.
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 89
c. Menjelastkan tempat mempersiapkan lumpur pengeboran.
d. Menjelaskan peralatan-peralatan sirkulasi.
e. Menjelaskan tempat mengkondisikan lumpur.
f. Menjelaskan tentang pompa lumpur
g. Mendemonstrasikan bongkar pasang pompa lumpur
E. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok
a. Materi Pokok:
1) Pengertian Peralatan Sistem Sirkulasi.
2) Lumpur Pengeboran
3) Tempat Mempersiapkan Lumpur Pengeboran.
4) Peralatan-Peralatan Sirkulasi
5) Tempat Mengkondisikan Lumpur
6) Pompa Lumpur
7) Bongkar Pasang Pompa Lumpur
b. Sub Materi Pokok:
1.1 Pengertian peralatan sistem sirkulasi
1.2 Fluida pengeboran (drilling fluid)
1.3 Tempat persiapan (preparation area)
1.4 Peralatan sirkulasi (circulating equipment)
1.5 Conditioning area atau solid control
equipment
2.1 Jenis-jenis lumpur pengeboran
2.2 Fungsi lumpur pengeboran
3.1 Mixing hopper
3.2 Rumah lumpur (mud house)
3.3 Tangki-tangki baja untuk lumpur
3.4 Kolam cadangan (reserve pit)
3.5 Bulk storage bins
3.6 Tangki air
4.1 Pipa
penyalur dari pompa dan pipa pengembalian (discharge line dan return line)
4.2 Pipa tegak (stand pipe)
4.3 Rotary hose
90 -
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
4.4 Pompa Lumpur
4.5 Pompa–pompa khusus dan alat–alat pengaduk
5.1 Shale shaker
5.2 Mud gas separator
5.3 Degasser
5.4 Desander
5.5 Desilter
6.1 Terminologi pompa
6.2 Bagian-bagian pompa
6.3 Bagian-bagian fluid end
7.1 Membongkar pompa duplex
7.2 Memasang kembali pompa duplex
7.3 Membongkar dan memasang piston assembly
7.4 Membongkar pompa single acting
7.5 Membongkar single acting pump-over-under valve
7.6 Memasng kembali single acting pump
7.7 Valve dan seat
7.8 Power end
F. Petunjuk Belajar
Untuk mencapai hasil
pembelajaran peserta diklat perlu mengikuti beberapa petunjuk antara lain
sebagai berikut :
1. Pertama peserta diklat
memahami legalisasi satuan acara pembelajaran agar mengerti materi pokok, sub
materi pokok, buku-buku penunjang, kemampuan dasar, dan indikator hasil
belajar.
2. Setelah itu peserta diklat
membaca buku modul Introduction to Drilling Operation agar dapat memahami
materi modul.
3. Mengikuti kegiatan
pembelajaran bersama-sama widyaiswara dalam kelas disertai dengan tanya jawab
untuk memperjelas pendalaman modul.
4. Peserta diklat mengerjakan soal-soal latihan.
5. Hasil nomor 4 sebagai tolak ukur terhadap
indikator hasil pembelajaran.
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 91
4.1. Pengertian Peralatan
Sistem Sirkulasi
Sistem
sirkulasi adalah suatu system peralatan yang memiliki tugas utama membantu
sistem pemutar didalam “mengebor sumur” dengan menyediakan
perlengkapan-perlengkapan yang sesuai untuk mengatur bahan-bahan lumpur dan tempat-tempat
kerja untuk mempersiapkan, merawat dan mengganti fluida pengeboran.
Sistem sirkulasi terdiri dari empat komponen
utama, yaitu :
1. Fluida pengeboran (drilling fluid)
2. Tempat persiapan (preparation area)
3. Peralatan sirkulasi (circulating equipment)
4. Conditioning area atau solid control equipment
A. Fluida Pengeboran
(Drilling Fluid)
Fluida
pengeboran adalah merupakan suatu campuran cairan (liquid) dari beberapa
komponen yang terdiri dari : air (tawar atau asin), minyak, lempung (clay),
bahan-bahan kimia (chemical additives), gas, udara, busa maupun detergen. Di
lapangan, fluida pengeboran dikenal sebagai “lumpur pengeboran” (mud).
B. Tempat Persiapan
(Preparation Area)
Penempatan
dimulai dari sistem sirkulasi. Tempat persiapan lumpur pengeboran terdiri dari
peralatan-peralatan yang diatur untuk memberikan fasilitas persiapan atau “treatment”
lumpur bor.
Tempat ini
meliputi :mud house, steel mud pits/tank, mixing hopper, chemical mixing barrel, bulk storage bins, water dan
reserve pit
C. Peralatan Sirkulasi
(Circulating Equipment)
Peralatan
sirkulasi merupakan komponen utama dalam sistem sirkulasi. Peralatan ini
mengalirkan lumpur pengeboran dari peralatan sirkulasi, turun ke rangkaian pipa
bor dan naik ke annulus membawa serbuk bor ke permukaan menuju conditioning
area sebelum kembali ke mud pits untuk sirkulasi kembali. Peralatan sirkulasi
terdiri dari beberapa komponen khusus :mud pit, mud pump, pump dischange and
return lines, stand pipe dan rotary hose.
92 -
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
D.
Conditioning Area atau Solid Control Equipment
Ditempatkan di
dekat rig. Area ini terdiri dari peralatan-peralatan khusus yang digunakan
untuk “clean up”(pembersihan) lumpur bor setelah keluar dari lubang bor. Fungsi
utama peralatan-peralatan untuk membersihkan lumpur bor dari serbuk bor
(cutting) dan gas-gas yang terikut, ada dua metode pokok untuk memisahkan
cutting dan gas :menggunakan prinsip gravitasi, dan secara mekanik. Peralatan “Conditioning
Area” terdiri dari : settling tanks,
reserve pits, mud-gas separator, shale-shaker, desander, desilter dan degasser

Gambar 4.1 Circulating System
E.
Rangkuman
1. Sistem sirkulasi merupakan
system yang bertugas membantu sistem pemutar didalam “mengebor sumur” dengan
menyediakan perlengkapan-perlengkapan yang sesuai.
2. Sistem sirkulasi terdiri
dari empat komponen utama, yaitu : fluida pengeboran (drilling fluid), tempat
persiapan (preparation area), peralatan sirkulasi (circulating equipment),
Conditioning area atau solid control equipment.
F.
Latihan
1. Jelaskan pengertian tentang sistem sirkulasi !
2. Sebutkan tujuan komponen-kompone utama dalam
sistem sirkulasi !
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 93
4.2.
Lumpur Pengeboran
Lumpur pemboran
(drilling mud) atau fluida pemboran (drilling fluid), merupakan factor yang
sangat penting dalam operasi pemboran. Laksana tubuh manusia, lumpur pemboran
ibarat darah yang bersirkulasi keseluruh tubuh yang digerakkan oleh jantung.
Dalam operasi pemboran, yang mensirkulasikan lumpur pemboran adalah pompa
lumpur.
A.
Jenis-Jenis Lumpur Pemboran
Lumpur pengeboran dibedakan menjadi :
1. Water–Base Mud
Lumpur
pengeboran yang paling banyak digunakan adalah water-base mud (80%). Komposisi
lumpur ini terdiri dari air tawar atau air asin, clay dan chemical additives.
Komposisi ini ditentukan oleh kondisi lubang bor.
Pedoman operasional secara umum :
a. Surface drilling operation
: digunakan lumpur biasa (natural mud) dengan sedikit additive yang digunakan.
b. Hard Subsurface Drilling
Operations : bila menembus formasi keras (porositas rendah) digunakan lumpur
encer.
c. Soft Subsurface drilling operations : bila
menembus formasi bertekanan
tinggi (porositas tinggi), digunakan lumpur
berat.
Water-base mud
merupakan jenis lumpur yang paling umum digunakan karena murah, mudah
penggunaannya dan dapat membentuk “filter cake” (kerak lumpur) untuk melindungi
gugurnya dinding lubang bor.
2. Oil–Based Mud
Digunakan pada
pengeboran dalam, hotholes, formasi shale dan sebagainya. Lumpur ini lebih
mahal, tetapi mengurangi terjadinya korosi pada rangkaian pipa bor, dsb.
3. Air or Gas–Based Mud
Keuntungan dari
lumpur jenis ini terutama adalah dapat menghasilkan laju pengeboran yang lebih
besar. Karena digunakan kompressor, kebutuhan peralatan dan ruang lebih
sedikit.
94 - TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
B.
Fungsi Lumpur Pemboran
Lumpur pengeboran pada
mulanya hanya berfungsi sebagai pembawa serbuk bor (cutting) dari dasar lubang
bor ke permukaan. Lumpur pengeboran mempunyai fungsi penting dalam operasi
pengeboran, antara lain :
1. Mengangkat cutting ke permukaan.
Mengangkat cutting kepermukaan tergantung dari :
a. Kecepatan fluida di
annulus. Umumya kecepatan 100-200 rpm sudah cukup (kadang-kadang perlu 200 rpm
tetapi jarang digunakan).
b. Kapasitas untuk menahan
fluida yang merupakan fungsi dari densitas, aliran (laminer atau turbulan), dan
viscositas.
2. Mengontrol tekanan formasi.
Tekanan fluida
formasi umumnya sekitar 0.433 psi/ft sampai 0.465 psi/ft kedalaman. Pada
tekanan yang normal, air dan padatan pengeboran telah cukup untuk menahan
tekanan formasi ini. Untuk tekanan yang lebih kecil dari normal (subnormal),
density lumpur harus diperkecil agar lumpur tak masuk hilang ke formasi.
Sebaliknya untuk tekanan yang lebih besar dari normal (lebih dari 0,433 psi/ft
atau lebih dari 0.465 psi/ft, abnormal pressure), Maka kadang-kadang barite
perlu ditambahkan untuk memperberat lumpur.
Tekanan yang diakibatkan
oleh kolom lumpur pada kedalaman D ft dapat dihitung dengan rumus :
Dalam
keadaan statik :
Ph = 0.052 MW D Keterangan :
Ph =
tekanan hidrostatik lumpur, psi MW =
densitas lumpur, ppg.
D = kedalaman, ft
Perlu diketahui, bahwa
tekanan pada formasi yang diakibatkan oleh fluida pada saat mengalir (rumus
diatas untuk keadaan statik) adalah tekanan yang dihitung dengan rumus diatas
ditambah dengan pressure loss (kehilangan
tekanan) pada annulus diatas formasi yang
bersangkutan, atau :
P = Ph +
Ploss
TEKNIK DAN
PERALATAN PEMBORAN - 95
3. Mendinginkan dan melumasi bit dan drill string.
Panas dapat
timbul karena gesekan bit dan drill string yang kontak dengan formasi. Konduksi
formasi umumnya kecil, sehingga sukar menghilangkan panas ini. Tetapi umumnya
dengan adanya aliran lumpur volume atau specific heat lumpur sudah cukup untuk
mendinginkan sistem dan melumasi.
4. Memberi dinding pada lubang bor dengan mud cake.
Lumpur akan
membuat mud cake atau lapisan zat padat tipis dipermukaan formasi yang
permeable (lolos air). Pembentukan mud cake ini akan menyebabkan tertahannya
aliran fluida masuk ke formasi untuk selanjutnya. (Adanya aliran yang masuk
yaitu cairan plus padatan menyebabkan padatan tertinggal/tersaring). Cairan
yang masuk ke formasi disebut filtrat.
Mud cake
dikehendaki yang tipis karena dengan demikian lubang bor tidak terlalu sempit
dan ciran tidak banyak yang hilang. Sifat wall building ini dapat diperbaiki
dengan penambahan :
a.
Sifat
koloid drilling mud dengan bentonite.
b. Memberi zat kimia untuk
memperbaiki distribusi zat padat dalam lumpur, misalnya Starch, CMC dan cypan,
yang mana mengurangi filter loss dan memperbaiki mud cake.
5. Menahan cutting saat sirkulasi dihentikan.
Dipengaruhi oleh sifat gel strength lumpur
(dalam kondisi statis).
6. Mengurang sebagian berat rangkaian pipa bor
(Bouyancy effect).
BF = 1 –
( ρm / 65.5 )
7. Melepas cutting dan pasir dipermukaan.
Kemampuan
lumpur untuk menahan cutting selama sirkulasi dihentikan terutama tergantung
pada gel strength. Dengan cairan menjadi gel, tekanan terhadap tekanan ke bawah
dapat dipertinggi. Cutting perlu ditahan agar tidak turun kebawah, karena bila
mengendap dapat mengakibatkan akumulasi cutting dan pipa akan terjepit (pipe
sticking).
Selain itu ini
akan memperberat rotasi permulaan dan juga memperberat kerja pompa untuk
memulai sirkulasi kembali. Tetapi gel yang terlalu besar akan berakibat buruk
juga karena akan menahan pembuangan cutting dipermukaan (selain pasir). Dengan
penggunaan alat-alat seperti desander atau shale shaker dapat membantu
pengambilan cutting/pasir dipermukaan. Patut ditambahkan,
96 - TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
bahwa pasir
harus dibuang dari aliran lumpur, karena sifatnya yang sangat abrasive
(mengikis) pada pompa, fitting (sambungan-sambungan) dari bit. Untuk ini kadar
pasir maksimal yang dibolehkan adalah 2%.
8. Mendapatkan informasi (mud logging, sample log).
Dalam
pengeboran, lumpur kadang-kadang dianalisa untuk diketahui mengandung
hidrokarbon atau tidak (mud log). Selain itu dilakukan juga sample log, yaitu
analisa daripada cutting yang naik ke permukaan, untuk menentukan jenis formasi
yang dibor.
9. Sebagai media logging.
Pada penentuan adanya zona
minyak atau gas serta zona air dan juga untuk korelasi dan maksud-maksud
tertentu, dilakukan logging (dimasukkan sejenis alat seperti alat listrik atau
gamma ray/neutron) seperti electric logging yang memerlukan media arus listrik
dilubang bor.
C.
Rangkuman
1. Lumpur pemboran (drilling
mud) atau fluida pemboran (drilling fluid), merupakan faktor yang sangat
penting dalam operasi pemboran sebagai pengontrol masalah-masalah pengeboran,
pembersihan lubang dan media informasi
2. Jenis-jenis lumpur pengeboran
antara lain : water base mud, oil base mud dan air or gas base mud.
D.
Latihan
1. Sebutkan jenis-jenis lumpur pengeboran!
2. Sebutkan fungsi-fungsi dari lumpur pengeboran!
3. Jelaskan mengenai lumpur pengeboran sebagai
pengontrol tekanan!
4. Apa yang dimaksud lumpur pengeboran sebagai
media logging
5. Jika berat lumpur adalah
9,5 ppg ; dan kedalaman sumur 6500 ft. Berapakah tekanan hidrostatiknya?
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 97
Tempat Mempersiapkan Lumpur
Tempat
mempersiapkan (Preparation area) adalah tempat mempersiapkan, merawat atau
mengganti fluida pengeboran. Kebutuhan tempat persiapan dan perawatan
tergantung dari keadaan formasi dan sumur bor yang direncanakan akan ditembus.
Tempat mempersiapkan terletak pada pangkal sistem sirkulasi dekat pompa – pompa
lumpur. Tempat itu terdiri dari :
a. Mud house
b. Steel mud pit / tanks
c. Mixing hopper
d. Chemical mixing barrel
e. Bulk mud storage bins
f. Water tank
g. Kolam cadangan (reserve pit)
Tempat ini merupakan tempat
dimana cairan pengeboran dipersiapkan dan dirawat atau diganti, tergantung dari
keadaan di dalam lubang sumur. Perubahan – perubahan mungkin diperlukan antara
lain untuk :
a. Agar selalu mendapatkan lubang sumur bor yang
baik / stabil
Untuk membentuk cairan pengeboran yang memiliki
berat jenis yang cukup
b. Untuk membentuk cairan
pengeboran yang mampu mentoleransi kemungkinan kontaminasi dari lubang bor yang
sedang ditembus.
c. Untuk mendapat sifat –
sifat fluida pengeboran yang baik agar memperoleh sifat aliran yang baik.
d. Untuk mempersiapkan lumpur
agar tidak menimbulkan kerusakan pada formasi produktif.
Terdapat 4 (empat) macam
kerja rutin utama didalam mempersiapkan lumpur pengeboran yang biasa dilakukan
tim pengeboran :
a. Persiapan pertama, untuk membuat kekentalan
(viskositas) lumpur.
b. Mengurangi air tapisan.
c. Penambahan bahan – bahan kimia lumpur, untuk
membuat perubahan ikatan
– ikatan kimia dalam lumpur pengeboran agar
memiliki sifat lumpur yang baik.
98 -
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
Kolam lumpur
(slush pit), dimana potongan – potongan tanah, bahan pembuangan dan sebagainya
disimpan. Duck nesh adalah tempat kelebihan cairan pengeboran disimpan untuk
dipakai kembali pada waktu gawat / darurat.
A.
Mixing hopper
Peralatan ini
berbentuk corong yang dipakai untuk menambahkan bahan lumpur berbentuk tepung
ke dalam cairan pengeboran padawaktu perawatan lumpur di tangki lumpur. Jenis
yang banyak dipakai adalah Hopper Jet, yang bekerja berdasarkan prinsip tekanan
ruang hampa

Gambar 4.2 Mixing Hopper
Menambah bahan – bahan kimia untuk cairan
pengeboran :
Bahan – bahan yang
dibutuhkan secara praktis dicampur kepada zat zair pengeboran mellaui beberapa
cara :
a. Melalui mixing hopper
b. Melalui tong – tong bahan – bahan kimia
c. Langsung ke kolam – kolam
lumpur yang terbuka (tidak begitu sering dipakai) atau,
d. Secara kombinasi – kombinasi dari cara – cara di
atas.
B.
Rumah lumpur (mud house)
Adalah suatu
gudang penyimpan bahan lumpur tertutup. Terletak di samping kolam lumpur dan di
samping mixing hopper, di area tempat mempersiapkan
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 99
lumpur. Didalam
mud house ini terdapat tumpukan karung berisi bahan – bahan lumpur yang kering
yang akan dipakai bila diperlukan didalam program perawatan cairan pengeboran
untuk suatu formasi yang sedang dibor.
Gudang
ini biasanya diletakkan sama tingginya dengan bagian atas dari tangki lumpur,
untuk mempermudah jalannya truk pengeboran dan agar bahan – bahan kimia
tambahan tersimpan dalam keadaan kering, sehingga mempermudah untuk pencampuran
bahan lumpur tersebut ke sistem pencampuran.
C.
Tanki – tangki baja untuk
lumpur
Kotak
– kotak baja berbentuk segi empat yang dipakai untuk menampung dan mengatur
cairan pengeboran setelah keluar dari sumur bor. Pada umumnya semua kolam
lumpur adalah serupa kecuali, yang dinamakan “shaker pit” atau “tangki
pengendapan” (settling tank)

Gambar 4.3 Mud
House
Shaker
pit atau tangki pengendap atau settling tank adalah tangki besi yang terletak
di bawah shale shaker dengan dinding – dinding yang miring 45 sehingga serbuk
bor ukuran kecil yang belum terbuang akan mengendap.
D.
Kolam Cadangan (Reserve
Pit)
Kolam
cadangan (reserve pit) adalah suatu kolam di permukaan yang menampung cutting
dari dalam sumur bor, dan kadang–kadang untuk menampung zat zat pengeboran ekstra
yang diperlukan pada suasana yang darurat. Kolam itu dibagi menjadi dua tempat
: shlush pit dan duck nest.
100 - TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
Gambar 4.4
Settling Tank

Gambar 4.5
Reserve Pit
E.
Bulk storage bins
Merupakan
bejana tempat menyimpan yang berbentuk corong yang terletak disamping kolam
lumpur daerah tempat mempersiapkan lumpur.Tangki – tangki ini berisi bahan –
bahan tambahan yang besar seperti bentonite dan bahan – bahan pemberat
(barite). Bejana tempat menyimpan bahan lumpur ini bekerja berdasarkan prinsip
gravitasi (gravity feed).
Keuntungan
dengan alat ini hanya membutuhkan sedikit operator dan mempertinggi effisiensi,
keamanan dan ekonomi. Sebagian tempat penyimpanan ini diberikan tenaga pembantu
dari udara bertekanan
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 101
F.
Tangki Air
Tangki
air merupakan tempat menyimpan air yang diperlukan sebagai cadangan /
persiapan. Sumber air berasal dari sumur-sumur air atau sumber air lainnya di
sekitar lokasi pengeboran.

Gambar 4.6 Bulk
Storage Bin
G.
Rangkuman
1. Tempat mempersiapkan lumpur
pengeboran merupakan tempat dimana cairan pengeboran dipersiapkan dan dirawat
atau diganti, tergantung dari keadaan di dalam lubang sumur..
2. Peralatan-peralatan
preparation area antara lain : mixing hopper, rumah lumpur, tangki-tangki baja
untuk lumpur, kolam cadangan (reserve pit), bulk storage bins, tangki air
H.
Latihan
1. Sebutkan peralatan-peralatan pada preparation
area!
2. Sebutkan kerja rutin yang dilakukan
dalam mempersiapkan lumpur pengeboran!
3. Apakah fungsi dari mixing hopper?
4. Mengapa posisi rumah lumpur
harus lebih tinggi dari tangki-tangki baja untuk lumpur?
5. Dimanakah cutting dibuang pada operasi
pengeboran?
102 - TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
4.3.
Peralatan-Peralatan Sirkulasi (Circulating Equipment)
Peralatan
sirkulasi adalah salah satu dari bagian – bagian yang utama dari sistem
sirkulasi. Perlengkapan ini menyalurkan fluida pengeboran. Fkuida ini
disalurkan dari tangki tempat mempersiapkan lumpur memakai pompa lumpur ke
dalam drill stem dan naik ke permukaan melalui annulus, dan kemudian
dipindahkan ke tangki pengkondisi lumpur, sebelum ditempatkan kembali ke dalam
tangki lumpur untuk disirkulasikan kembali.
Peralatan
sirkulasi ini terdiri dari beberapa bagian – bagian yang spesial, yaitu Tangki
lumpur (mud pit)
1. Pipa penyalur dari pompa
dan pipa pengembalian (discharge line dan return line).
2. Pipa tegak (stand pipe).
3. Selang pembasuh (rotary hose).
4. Pompa lumpur (mud pump).
5. Pompa–pompa khusus dan alat–alat pengaduk.
A. Pipa
penyalur dari pompa dan pipa pengembalian (discharge line dan return line)
Flow
line dan disharge
line serta return
line, adalah pipa – pipa
penyambung yang
penting dalam memindahkan fluida pengeboran bertekanan ke dalam dan kembali
dari sumur bor. Discharge line menyalurkan fluida pengeboran yang baru atau
yang dikondisikan line kembali ke dalam drill stem dengan tekanan tinggi.
Return line membawa fluida pengeboran yang membawa cutting dan gas–gas dari
sumur bor ke tempat pengkondisian dengan menggunakan tenaga gravitasi.
Annulus,
adalah ruangan antara batang bor dan dinding sumur bor, dan berfungsi sebagai
laluan fluida pengeboran beserta cutting kembali ke permukaan. Sistem sirkulasi
:
1. Fluida pengeboran disiapkan di preparation area.
2. Fluida pengeboran, dihisap
oleh pompa lumpur, dan dialirkan kearah sumur bor.
3. Fluida pengeboran dialirkan ke stand pipe terus
ke swivel.
4. Fluida pengeboran dialirkan
ke bawah melalui batang bor, dan ke atas melalui annulus.
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 103
5. Pada permukaan fluida
pengeboran mengalir ke tempat pengkondisian lumpur.
6. Peralatan pengkondisian
lumpur memisahkan partikel-partikel dari fluida pengeboran.
7. Fluida pengeboran dialirkan
kembali ke mud tank kemudian disirkulasikan kembali.
B.
Pipa tegak (stand pipe)
Pipa
tegak (stand pipe) adalah suatu pipa baja yang dijepit secara vertical di
samping dari derrick atau mast dan menghubungkan discharge line dengan selang
pembasuh (rotary hose).
Rotary
hose ini disambungkan pada ujung stand pipe dan pada bagian swivel yaitu goose
neck. Rotary hose ini mengalirkan fluida pengeboran ke swivel dan disalurkan
kedalam batang bor. Pipa tegak ini memungkinkan swivel dan Rotary hose untuk
bergerak vertikal ke atas atau ke bawah seperlunya. Di bagian bawah stand pipe
terdapat manifold yang berfungsi untuk mengatur aliran lumpur selain ke stand
pipe juga untuk ke pencegah semburan liar dan ke bell nipple.

Gambar 4.7
Stand Pipe
104 - TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
Gambar 4.8
Stand Pipe Manifold
C.
Rotary hose
Rotary
hose adalah suatu selang karet bertulang anyaman baja yang lemas dan sangat
kuat, yang menghubungkan stand pipe dengan swivel. Selang ini harus elastic ,
untuk memungkinkan swivel bergerak bebas secara vertikal. Selang ini juga harus
sangat kuat untuk tahan lama, karena pekerjaannya yang sangat berat dalam
memindahkan fluida pengeboran yang kasar dan bertekanan tinggi itu (sampai
5.000 psi). Selang pemutar ini dapat diperoleh dengan ukuran panjang sampai
kurang lebih 75 feet.

Gambar 4.9
Rotary Hose
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 105
D.
Pompa Lumpur
Pompa
lumpur adalah bagian utama dari peralatan sistem sirkulasi. Tugas utamanya adalah
menyalurkan fluida pengeboran yang banyak dan bertekanan tinggi. Ada 2 (dua)
macam utama dari pompa – pompa lumpur itu, yaitu : Duplex dan Triplex.
Perbedaan
utamanya adalah di dalam jumlah toraknya dan cara kerjanya. Pompa gerak ganda
(duplex) adalah pompa yang sering dipakai, akan tetapi pompa bertorak
pergerakan tunggal (tripex) mulai dipakai seiring perkembangan teknologi.
Pompa
triplex memberikan tekanan yang tinggi dengan harga yang lebih murah (kira –
kira 20 – 50% lebih murah). Pompa triplex juga 40 sampai 50 % lebih ringan,
sehingga mudah moving-nya.

Gambar 4.10
Duplex Mud Pump

Gambar 4.11
Triplex Mud Pump
106 - TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
E.
Pompa–pompa khusus dan alat–alat pengaduk
1. Pompa Centrifugal
Pompa – pompa
kecil (sampai 100 HP) ditempatkan pada beberapa tempat di sekeliling rig,
digunakan untuk keperluan alat – alat pencampuran, seperti mud gun dan pengaduk
lumpur lainnya, untuk memindahkan fluida pengeboran dari tangki ke tangki
lainnya

Gambar 4.12
Centrifugal Pump
2. Pengaduk Lumpur (Mud Agitator)
Pengaduk lumpur
ini mempunyai tugas yang sama dengan mud gun, hanya lebih effektif. Pengaduk
ini pada umumnya banyak digunakan pada rig pengeboran yang modern.

Gambar 4.13 Mud
Agitator
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 107
3. Mud Gun
Peralatan ini
berupa pipa dan bertekanan tinggi yang dipasang pada tangki – tangki lumpur,
digunakan seperlunya dalam mengaduk dengan memancarkan cairan pengeboran.
Pengadukan ini membantu mencegah pengendapan bahan pemberat di dalam cairan
pengeboran.

Gambar 4.14 Mud
Gun
F.
Rangkuman
1. Peralatan-peralatan
sirkulasi menyalurkan fluida pengeboran dari tangki tempat mempersiapkan lumpur
memakai pompa lumpur ke dalam drill stem dan naik ke permukaan melalui annulus,
dan kemudian dipindahkan ke tangki pengkondisi lumpur, sebelum ditempatkan
kembali ke dalam tangki lumpur untuk disirkulasikan kembali.
2. Peralatan-peralatan
sirkulasi antara lain discharge line dan return line, pipa tegak (stand pipe),
rotary hose, pompa lumpur serta pompa–pompa khusus dan alat–alat pengaduk.
3. Pompa–pompa khusus dan alat–alat
pengaduk antara lain : pompa centrifugal, pengaduk lumpur (mud agitator) dan
mud gun.
G.
Latihan
1. Apakah fungsi dari peralatan-peralatan
sirkulasi?
2. Sebutkan urutan-urutan sirkulasi!
3. Sebutkan peralatan-peralatan sirkulasi!
4. Sebutkan pompa–pompa khusus dan alat–alat
pengaduk!
5. Mengapa lumpur pengeboran perlu diaduk-aduk?
108 - TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
4.4.
Tempat Mengkondisikan Lumpur Pengeboran
Tempat
mengkondisikan lumpur pengeboran terletak di dekat rig. Tempat ini terdiri dari
perlengkapan khusus yang dipakai untuk “membersihkan” cairan pengeboran.
Peralatan ini terdiri dari :
1. Shale shaker
2. Degasser
3. Desander
4. Desilter, dan
5. Settling tank (tangki pengendapan)
Tugas utama
tempat ini adalah untuk mengeluarkan cutting dan gas yang masuk ke dalam lumpur
pengeboran. Ada dua cara dasar untuk mengeluarkan cutting dan gas. Cara pertama
adalah dengan menggunakan gravitasi, sewaktu cairan itu dilewatkan melalui
shale shaker dan tangki pengendapan. Cara kedua adalah secara mekanis, dimana
perlengkapan yang khusus lain diperlukan untuk dipasang pada tangki lumpur,
untuk mengeluarkan partikel-partikel dan gas yang larut dalam lumpur.
A. Shale
shaker
Shale shaker
merupakan saringan yang digetarkan dan biasanya ditempatkan pada ujung tangki
lumpur pertama (disebut “shaker tank”). Pertama kali cairan pengeboran akan
langsung datang dari sumur bor ke shale shaker. Tugas utamaya adalah untuk
memisahkan cutting atau partikel-partikel yang berukuran > 150 micron dari
lumpur.

Gambar 4.15 Dry
Cutting
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 109
Gambar 4.16
Shale Shaker
B. Mud gas separator
Peralatan untuk memisahkan
gas dari lumpur di tempatkan pada ujung bagian luar dari perlengkapan
pengkondisi lumpur, disebelah shale shaker. Berbentuk tangki tegak dan kadang –
kadang horizontal serta disambungkan pada choke manifold, dengan memakai pipa –
pipa bertekanan tinggi. Tugas – tugas utamanya adalah :
1. Mengeluarkan gas
dari dalam cairan pengeboran.
2. Memisahkan cairan
pengeboran yang masih dapat dipakai, dengan mengalirkannya kembali ke degasser.
3. Mengalirkan gas – gas yang mudah terbakar dan
beracun melalui pipa.

Gambar 4.17 Mud
Gas Separator
110 -
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
C.
Degasser
Pembuang gas
biasanya ditempatkan pada kolam – kolam lumpur. Tugas utamanya adalah
mengeluarkan gas dari dalam cairan pengeboran secara terus menerus. Gas harus
dikeluarkan karena gas dapat :
1. Menurunkan berat jenis cairan pengeboran.
2. Menurunkan efisiensi pompa
3. Menurunkan tekanan hidrostatis dari cairan
pengeboran, dan
4. Memperbanyak isi tangki.
Kondisi –
kondisi seperti di atas tidak diinginkan. Bila gas berjumlah besar dibiarkan
masuk lubang bor, maka kick bisa terjadi dan dapat mengakibatkan semburan liar
(blowout).

Gambar 4.18
Degasser

Gambar 4.19
Penempatan Degasser
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 111
D. Desander
Desander
terdiri dari beberapa buah silinder berbentuk kerucut. Berfungsi untuk
mengeluarkan partikel-partikel yang berukuran 50 - 70 micron yang dapat lewat
melalui shale shaker. Cairan pengeboran masuk dengan tekanan tinggi melalui
silinder dan bagian – bagian yang berat akan dikeluarkan oleh tenaga
centrifugal dan selanjutnya keluar melalui dasar silinder.

Gambar 4.20
Desander
E. Desilter
Mekanisme
kerjanya sama dengan desander perbedaannya adalah ukuran partikelnya < 50
micron.
Pemisahan partikel-partikel tersebut
dapat mengurangi keausan pompompa lumpur.

Gambar 4.21 Desilter
112 -
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
F.
Rangkuman
1. Tugas utama tempat
mengkondisikan lumpur pemboran (conditioning area) adalah untuk mengeluarkan
cutting dan gas yang masuk ke dalam lumpur pengeboran.
2. Peralatan-peralatan tempat
mengkondisikan lumpur pemboran (conditioning area) antara lain : shale shaker,
mud gas separator, degasser, desander dan desilter.
G.
Latihan
1. Apakah fungsi dari tempat mengkondisikan lumpur
pemboran (conditioning area)?
2. Apakah fungsi dari shale shaker?
3. Apakah fungsi dari mud gas separator?
4. Apakah perbedaan antara mud gas separator dengan
degasser?
5. Dengan alat apakah partikel berukuran kurang
dari 50 micron?
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 113
4.5. Pompa Lumpur
Jenis
pompa lumpur yang dipakai pada unit pengeboran adalah pompa torak duplex double
acting atau triplex single acting. Pompa duplex double acting memiliki dua
piston (torak) dan pada setiap piston memiliki pasangan 4 buah valve tekan
(discharge valve) dan dua valve hisap (suction valve).
Pompa
duplex bekerja ganda (double acting) artinya untuk gerakan piston pompa kedepan
ataupun ke belakang akan senantiasa menghasilkan pendorongan cairan. Gerakan
piston pompa ini umumnya relatif lambat sehingga lumpur mengalir dari tangki
masuk ke dalam pompa sewaktu langkah hisap cukup mengalir dengan baik tanpa
diberi tenaga bantuan pompa atau lumpur mengalir sendiri karena perbedaan
tinggi permukaan lumpur dan pompa.

Gambar 4.22 Mud
Pump
Pompa
triplex single acting memiliki tiga piston, dengan masing – masing piston
berpasangan dengan satu valve tekan (discharge valve) dan satu valve hisap
(siction valve).
Pompa
triplex single acting atau kerja tunggal artinya piston hanya bekerja satu arah
saja yaitu saat gerakan ke depan, sedang untuk gerakan piston ke belakang hanya
akan menghasilkan penghisapan lumpur dari tangki masuk ke dalam ruang liner
pompa.
Gerakan
piston pompa ini lebih cepat dibanding dengan pompa duplex, yaitu antara 1 ½
sampai 2 kali lebih cepat, sehingga sebagai akibatnya diperlukan pengisian
lumpur ke ruang liner dari tangki dengan cepat pula, untuk keperluan itu pada
pompa triplek pada saluran hisapnya senantiasa memerlukan bantuan aliran lumpur
dengan pompa centrifugal sebagai supercharging.
114 -
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
A.
Terminologi Pompa
Pompa
dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu power end dan fluid end
(cylinders, valve assembly, liners and pistons). Power end mempunyai fungsi
merubah gerakan mekanis berputar yang berasal dari putaran motor, dirubah
menjadi gerakan maju mundur secara bergantian untuk semua piston.
Fluid
end mempunyai fungsi untuk merubah tenaga mekanis menjadi tenaga hidrolik,
dengan menghasilkan sejumlah kapasitas aliran dengan bertekanan tinggi.

Gambar 4.23
Power End

Gambar 4.24
Fluid End Assembly
B.
Bagian – Bagian Pompa
1. Saluran hisap Pompa
Konstruksi
dari saluran hisap pompa lumpur harus dibuat agar permukaan lumpur terhadap
pompa harus dapat memberikan tekanan yang positip, karena permukaan lumpur
lebih tinggi dari letak / posisi piston pompa
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 115
(positive
head). Dengan positive head ini sewaktu piston bergerak langkah hisap, piston
akan terus langsung diikuti lumpur dibelakangnya tanpa ada ruang yang kosong
karena lumpur terlambat mengisi (kekosongan).
Apabila
terdapat keterlambatan pengisian lumpur pada saat piston bergerak langkah
hisap, maka akan terjadi ketukan (knocking) sewaktu piston berubah ke langkah
tekan. Ketukan yang demikian akan mengakibatkan :
1. Menurunkan effisiensi volumetris pompa
2. Menurunkan usia pakai bagian – bagian dari pompa
3. Dapat merusak power end dari pompa.
Besar positive suction head
atau tekanan lumpur di saluran hisap semakin tinggi, apabila :
1. Panas lumpur tinggi.
2. Di dalam lumpur mengandung gas.
3. Viscositas lumpur tinggi.
4. Kecepatan gerak langkah pompa yang semakin
tinggi.
Dilihat
dari segi penyediaan atau terbentuknya positive head pada saluran hisap, maka
dapat dibedakan adanya dua sistem saluran hisap antara lain:
a. Flooded suction, yaitu sistem saluran hisap
dimana penyaluran lumpurnya masuk ke dalam ruang liner pompa hanya karena gaya
gravitasi.

Gambar 4.25
Flooded Suction
116 -
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
b. Charged (super charged)
suction, yaitu sistem saluran hisap dimana pengaliran lumpurnya masuk ke dalam
ruang liner dengan diberikan tekanan oleh pompa.

Gambar 4.26 Charged suction
Beberapa masalah dan tindakan yang perlu
perhatian untuk saluran hisap
a. Untuk sistem flooded ukuran
pipa hisap usahakan sebesar mungkin dan tidak lebih kecil dari “8”
b. Saluran hisap sebaiknya
sama atau lebih besar dari ukuran saluran pipa hisap yang terdapat pada pompa.
c. Jarak tangki dan pompa sebaiknya sedekat mungkin
atau sependek mungkin.
d. Saluran hisap sebaiknya
lurus dan jangan banyak belokan, kalau terpaksa ada belokan pergunakan long
radius elbow.
e. Check pengendapan solid (padatan) pada dasar
saluran hisap.
f. Umumnya jika memakai 2
pompa, dengan satu buah stand by untuk waktu yang lama, maka penumpukan solid
pada saluran hisap dapat terjadi dalam jumlah besar dan tidak dapat bersih
terkikis pada waktu yang singkat pada saat pompa dipakai.
g. Pengendapan dapat dicegah
dengan memelihara kecepatan saluran hisap tetap tinggi. Dan setiap pompa punya
saluran sendiri dan tidak bersama dengan saluran hisap pompa lain.
h. Sebaiknya setelah periode tertentu bila perlu
diadakan pengechekan.
i. Mencuci saluran hisap pada waktu pindah rig
sebaiknya dilakukan.
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 117
j. Kadang – kadang saluran
hisap disambung 2 coupling, sehingga secara periodik pipa hisap dapat diputar
untuk mengatur bagian atas yang dapat diletakkan di bawah.
k. Pelihara suction strainer
(saringan pipa hisap) agar selalu bersih dengan melakukan pengecekan.
l. Letak lubang saluran hisap
di tangki (pit) jangan terlalu dekat dengan dasar tangki, agar aliran tidak
terhambat oleh kemungkinan adanya endapat dan juga agar pasir tidak masuk ke
dalam pompa.
m. Letak lubang saluran hisap
juga tidak boleh terlalu tinggi atau dekat permukaan lumpur, karena pompa dapat
menghisap udara dan dapat terjadi knocking (ketukan).
2. Centrifugal Super Charging
Tujuan
mempertinggi tekanan saluran hisap, untuk mencegah keterlambatan pengisian
ruang hisap pompa. Cara ini hanya diperlukan terutama pada pompa yang
berkecepatan tinggi yaitu pompa triplex. Keuntungan dengan sistem ini adalah :
a. Mempertinggi pump out put (volumetric effisiensi
naik).
b. Operasi lebih halus.
c. Memperpanjang usia pakai spare part pompa.
d. Memperbesar HHP.
Dari
pengalaman sebagian besar triplex pump memerlukan equivalent 60-70 feet head
dari super charging pump supaya pengisian ruang hisap cukup baik. Tekanan yang
terlalu tinggi akan berakibat suction valve tetap terbuka pada saat awal piston
mulai bergerak untuk menekan (power stroke), sehingga akan memperpendek usia
valve dan seat.
Sebagian
besar triplex pump memerlukan pompa centrifugal 5 x 6 atau 6 x 8 centrifugal
pump, 1150 – 1200 Rpm 11 sampai 13 inch diameter impeller. Pemasangan saluran
hisap pompa centrifugal dari kemungkinan terperangkanya udara, karena :
a. Tidak memakai excentric reducer
b. Pipa hisap agak kendor dibanding posisi pompa
118 -
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
Bagian pipa yang lurus di depan pompa centrifugal pada saluran hisap
minimal 2 kali diameter pipa. Knocking adalah suara ketukan yang menunjukkan
pompa tidak beroperasi benar/baik/normal. Bermacam-macam jenis knocks dimana
umumnya disebut valve hammer, valve knock dan fluid hammer. Perubahan suara
mungkin disebabkan kesulitan mekanis atau abnormal kondisi operasi.
a. Mechanical knocking
Mechanical
knocks umumnya terjadi disebabkan kecepatan rendeman pompa tinggi, memberikan
suara metal. Suara di power end selalu mechanical knock, tetapi ada kalanya
suara itu dari fluid end yang merambat sehingga susah membedakan hal – hal
tersebut. Mechanical knocking umumnya mempunyai ciri – ciri satu atau lebih
karakteristik berikut :
1. Suara di satu tempat dan metalic
2. Knock timbul setelah pekerjaan pemeliharaan
3. Knock terjadi pada kecepatan rendah dan tinggi.
b. Operational knocks, adalah
suara yang terjadi dari operasi pompa yang normal.
c. Hydraulic knocking, terjadi akibat poor priming,
air, water hammer.
3. Suction Pulsation Dampener
Peralatan ini dapat meredam
dan menstabilkan tekanan saluran hisap. Suction dampener tidak mempertinggi
pump horse power tetapi dapat mencegah menurunnya volumetric efficiency pompa
dan mencegah problem knocking. Jenis-jenisnya adalah :
a. Open suction dampener, bisa dipakai pada pompa
duplex
b. Air chamber type suction
dampener, dapat untuk duplex double acting atau triplex.
c. Precharged suction dampener, memerlukan tekanan
udara 10 – 15 psi
4. Sistem Saluran Tekan
Discharge Pulsation
Dampener, mempunyai fungsi untuk meredam pulsa (gelombang) tekanan lumpur di
saluran tekan. Agar dapat berfungsi effectif pulsation dampener ini harus
dipasang sedekat mungkin dengan fluid end dan
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 119
diberikan
precharge nitrogen dengan tekanan yang cukup. Tekanan precharge yang diperlukan
harus diikuti petunjuk pabrik pembuat.
Sebagai contoh
: untuk pulsation dampener produksi Emsco, tekanan precharge maksimum 2/3
tekanan rata – rata discharge tetapi tidak boleh lebih dari 650 psi.

Gambar 4.27
Pulsation Dampener
Adapun gas yang
digunakan untuk pengisian harus mempergunakan nitrogen dan bukan udara atau
oksigen. Getaran yang terjadi sepanjang saluran tekan perlu dihindari untuk
mencegah terjadinya kerusakan atau pecah karena kelelahan, untuk menghindari
hal tersebut digunakan vibrating hose.

Gambar
4.28 Vibration Hose
120 -
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
5. Pressure Relief Valve
Pressure
relief valve mempunyai fungsi untuk melindungi pompa dan discharge line untuk
menghindari tekanan yang berlebihan, yang mungkin terjadi misalnya akibat bit
tersumbat dan lain-lain.
Relief
valve ini mampu membuka atau membuang tekanan apabila tekanan pipa melebihi
tekanan tertentu yang telah disetting atau direncanakan bekerja untuk relief
valve tersebut.
Besar tekanan pengesetan untuk suatu pompa didasarkan atas tekanan kerja
maksimum dari liner yang terpasang dan biasanya sedikit besar dari tekanan
kerja maksimum liner yang terpasang. Terdapat dua jenis relief valve, yaitu :
·
Shear
type relief valve
·
Automatic
resetting relief valve

Gambar 4.29
Relief Valve
Pengesetan
shear type relief valve dilakukan dengan mengganti ukuran shear pin atau paku.
Dan untuk type ini tutup pelindung (protective cover) harus selalu dipasang
untuk melindungi pekerja. Setiap relief valve harus dipasang sebelum strainer
dan saluran buang tekanan harus diikat, dijangkarkan ke arah kembali ke tangki
dan jangan dihubungkan ke pipa saluran hisap.
TEKNIK DAN
PERALATAN PEMBORAN - 121
C.
Bagian-bagian Fluid End
1. Piston
Piston meluncur
di dalam liner, untuk mendorong lumpur menghasilkan aliran lumpur dengan
bertekanan. Semakin tinggi tekanan pompa yang harus dihasilkan diperlukan
semakin kecil gap (clearance) antara piston dan liner. Masa kerja piston sangat
dipengaruhi oleh clearence antara piston dengan liner.

Gambar 4.30
Piston

Gambar 4.31
Liner
Sebagian contoh
untuk clearance 0,040 untuk tekanan 3000 psi akan hanya mampu bekerja selama
50% dan usia pakai dari piston baru dengan liner baru (clearance 0,010”).
Apabila piston rusak, dan terjadi kebocoran dengan kecepatan tinggi diantara
liner dan piston akan dapat merusak piston flange,
122 - TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
piston rubber dan permukaan
dalam liner. Mengingat harga piston jauh lebih murah dibanding harga liner,
maka lebih baik cepat mengganti piston bila diketahui adanya kerusakan piston.
Piston karet yang dipasang pada piston flange lama akan lebih dahulu rusak jika
dibanding dengan piston karet baru dipasang pada piston flange baru. Untuk
mengetahui keausan dari piston flange dapat dilihat pada alur yang berbentuk
dua tingkat pada tengah piston flange.
Untuk
bekerja dengan tekanan 1500-3000 kalau tingkat pertama habis, maka flange harus
diganti. Untuk bekerja dengan tekanan sampai 1500 kalau tingkat kedua habis,
maka flange harus diganti. Piston rubber yang bekerja untuk pompa triplex
single acting, dimana liner tidak disemprot dengan pendingin akan cepat
mengalami kerusakan. Pendingin dan pembersihan liner akan bekerja atau berhasil
baik apabila range pembersihannya antara 5-10 GPM atau sebesar yang disarankan
oleh pabrik pembuat pompa. Cara pembersihan yang dilakukan adalah langsung
menyemprotkan air ke permukaan dalam liner, dengan mengatur sedemikian rupa
konstruksi sistem pendinginannya sehingga seluruh permukaan liner dapat
disemprot. Pendinginan yang baik diperlukan untuk pompa yang memiliki kecepatan
semakin tinggi. Terdapat tiga jenis rubber piston, yang harus dipilih agar
sesuai dengan jenis lumpur yang dipompa untuk mendapatkan usia pakai yang lama.
§
Oil resisting high pressure supreme bertanda sabuk biru.
§
Oil resisting normal Misupreme bertanda sabuk kuning.
§
Water resisting regular bertanda sabuk hitam.

Gambar 4.32
High Pressure Piston
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 123
2. Duplex Piston Rod
Duplex piston
rod harus diganti secara periodik karena telah aus diameter luarnya, yang
disebabkan oleh gesekan dengan rod packing. Piston rod duplex ada 2 macam grade
:
·
Standard
grade
·
Premium
grade
Standard grade
piston rod terbuat dari baja yang diheattreated
sekeras premium grade rod. Piston rod ini memiliki kelemahan tidak tahan korosi
dan cepat aus. Piston rod standard grade coch dipakai untuk pompa yang bekerja
dengan tekanan rendah dan lumpur/cairan yang dipompa tidak korosif. Premium
grade piston rod, terbuat dari baja yang diperkeras dan dilapisi chrome atau
nickel-chrom-boron. Type ini tahan abrasi, korosi dan tekanan tinggi.

Gambar 4.33
Piston Rod
3. Pelumas Piston Rod
Terdapat 3 macam bahan
pelumas yang biasa dipakai untuk pendingin dan pelumas piston rod :
a. Air bersih, bahan ini biasa
dipakai pada pengeboran di darat sebagai pendingin dan pembersih relatif cukup
baik, tetapi kualitas pelumasnya kurang.
b. Pelumas motor ditambah
minyak solar. Apabila minyak pelumas dipakai sebagai bahan pengental SAE 40, 1
bagian + 10 bagian diesel oil, maka akan equivalent dengan SAE 5 motor oil.
124 - TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
c. Solube oil.
1. Apabila emulsi minyak
dipakai akan cukup baik, campuran itu dapat dibuat dari 10 sampai 20 bagian air
tawar ditambah 1 bagian solube oil.
2. Apabila emulsi ini dipakai
lama-lama akan menjadi kental, untuk mengatasi hal ini dapat langsung ditambah
air.
3. Emulsi ini sangat baik
melumasi karet dan sangat baik sifat pelumasan dan pembersihannya.
4. Adanya endapan lumpur dan
material abrassive, akan mudah terpisah mengendap di baik resirvoir dan
selanjutnya dapat ditap (dibuang).
4. Liner packing
Setiap pabrik mempunyai design untuk liner packingnya. Satu type dari
packing ini adalah liner packing karet dan disarankan hanya untuk tekanan
rendah dan horse power pompa kecil. Sumber rubber packing liner umumnya tahan
minyak dan dipakai pada pompa tekanan rendah dan pompa tidak memiliki tell tale
hole atau pompa yang memerlukan bentuk packing khusus. Packing tekanan tinggi
dapat dipakai pada pompa bertekanan rendah, menengah dan tinggi.
Packing liner tekanan tinggi paling populer dipakai saat ini. Linernya
lebih gampang dilepas dengan kualitas packing yang tidak berubah bentuk dan
melebar di dalam liner, dan tidak membuat liner macet di dalam pompa. Liner
packing membuat kerapatan, memisahkan sekeliling liner dari hubungan antara
kedua ujung liner. Liner packing harus dikeraskan/diikat merata untuk menambah
tekanan terus menerus dari arah bergantian berlawanan. Adanya gerakan packing akan
dapat menyebabkan ausnya silinder pompa. Salah satu type packing dibuat dengan
metal ring dengan di kedua sisi sampingnya diberi nylon back up ring dan rubber
seal packing ring. Untuk khusus pompa lumpur single acting tidak memerlukan
liner packing pada sisi diameter luarnya, tetapi hanya memerlukan gasket yang
diletakkan pada alur di ujung liner dan ia akan membuat kerapatan dengan fluid
end cylinder.
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 125
D.
Rangkuman
1. Pompa duplex double acting
memiliki dua piston (torak) dan pada setiap piston memiliki pasangan 4 buah
valve tekan (discharge valve) dan dua valve hisap (suction valve).
2. Pompa duplex bekerja ganda
(double acting) artinya untuk gerakan piston pompa kedepan ataupun ke belakang
akan senantiasa menghasilkan pendorongan cairan..
3. Pompa dapat dibagi menjadi
dua bagian utama, yaitu power end dan fluid end (cylinders, valve assembly,
liners and pistons).
4. Bagian-bagian pompa terdiri
dari saluran hisap pompa, centrifugal super charging, suction pulsation dampener,
sistem saluran tekan dan pressure relief valve.
5. Bagian-bagian fluid end antara lain piston,
piston rod, pelumas piston rod dan
liner packing.
E.
Latihan
1. Apakah perbedaan antara pompa duplex dengan
pompa triplex?
2. Sebutkan bagian-bagian dari pompa lumpur!
3. Sebutkan jenis-jenis pulstation dampener!
4. Sebutkan bagian-bagian dari fluid end!
5. Sebutkan jenis-jenis pelumas untuk piston rod!
126 - TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
4.6.
Bongkar Pasang Pompa Lumpur
Dalam
mengoperasikan pompa lumpur harus selalu diperhatikan dalam hal perawatannya.
Kadangkala untuk perawatan yang rutin delakukan seperti membongkar dan memasang
kembali pompa lumpur
G.
Membongkar Pompa Duplex Pekerjaan di luar.
·
Lepaskan
liner adjusting nut dan/atau liner packing screw.
·
Lepaskan
cylinder head dan liner cage (apabila dipakai).
·
Untuk menjaga packing agar baik dan tidak aus, cuci bersihkan dari semua
lumpur sebelum ia mengeras.
·
Kendorkan
rod packing gland dan rod lock nut.
·
Pakailah kunci penahan (back up wrench) pada pony rod ketika melepas
piston rod, untuk mencegah jangan sampai lepas dari cross head.
·
Aturlah letak penguncian kunci pipa di tempat yang disediakan untuk
mengunci baik pada piston rod ataupun pony rod.
·
Apabila piston rod sudah lepas dari pony rod, piston rod dapat
dikeluarkan dengan memutar memakai rod removal tool.

Gambar 4.34
Pony Rod

Gambar 4.35
Piston Rod
TEKNIK DAN
PERALATAN PEMBORAN - 127
B. Liner
·
Pasangkan liner puller pada liner dan check untuk membuat jari-jari atau
kait puller duduk dengan tepat/baik pada ujung line.
·
Setelah liner keluar bersihkan cylinder dari semua akumulasi pasir,
lumpur packing dan lain-lain. Dan ambil kawat untuk membersihkan lubang lubang
tell tale hole, untuk mengecek lubang tersebut tidak buntu.
·
Pada bagian silinder tempat kedudukan liner packing harus diperiksa dan
shoulder dicek terdapat luka atau aus berlebihan.
·
Periksa
terdapat retak pada body pompa atau tidak.
·
Pemeriksaan harus dilakukan dengan seksama, dengan lampu yang terang,
lebih baik diketahui lebih awal dan segera diperbaiki sebelum menjadi kerusakan
yang serius/parah.
C. Rod Packing
·
Keluarkan/ambil semua rod packing lama dan adaptor dari stuffing box.
Bersihkan dan lihat bagian dalam stuffing box dan periksa pula semua
bagian-bagian lain.
·
Check adakah kerusakan atau aus pada stuffing box, bross age dan junk
ring.
·
Junk
ring yang aus harus diganti.
H. Memasang Kembali Pompa Duplex
1. Liner Packing
·
Sebelum
merakit kembali lakukan pengecekan akhir :
¯ apakah packing yang akan
dipasang telah benar.
¯
apakah lubang dalam cylinder pompa telah bersih.
¯
lubang dalam pompa harus diteliti
adalah wash cut atau rusak.
¯
check apakah tell tale hole telah terbuka.
¯ apakah packing adjusting
studs pada cylinder head telah diputar keluar (backed off).
·
Apabila daerah liner packing telah betul-betul bersih dan dicek, tempat
untuk penahan packing harus diberi grease dengan grease biasa, jangan memakai
pipe dope.
128 - TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
·
Setiap
bagian packing harus diberi grease merata dengan grease biasa.
·
Setiap pipa packing yang telah diberi grease diletakkan di dalam pompa
dan ditekan semua ke depan menempel shoulder. Harus dicheck bahwa packing yang
dipasang sudah betul benar.
·
Pada beberapa pompa dan pula yang didisain liner shoulder di pompa
sehingga membuat liner metal to metal liner cage. Dimana packing dipasang
setelah liner dimasukkan ke dalam body pompa.
·
Keausan dari pump housing karena gerakan liner dan housing shoulder aus
karena saat pemasangan liner dan saat melepasnya membuat clearance bertambah
besar. Menyumbat clearance ini sering menjadi susah. Packing liner tertekan ke
sudut metal diantara ring ini membuat usia packing menjadi turun.
2. Liner.
·
Lubang dalam dari liner harus seluruhnya bersih dari rust inhibitor
(inhibitor pencegah karat).
·
Apabila satu set packing telah diletakkan di tempatnya, kemudian liner
diangkat ke posisinya.
·
Ketika liner masih di pintu lubang pompa seluruh permukaan liner
diberikan grease untuk penuntun sewaktu masuk ke daerah packing. Liner kemudian
didorong hati-hati masuk ke dalam packing. Liner masuk ke dalam lubang pompa
pas sekali dan packing cukup rapat sekali, tetapi tidak memerlukan tenaga yang
besar untuk merapatkannya.
·
Kadang-kadang tumbukan liner untuk melalui liner pada bagian belakang
menjadi kelemahan. Tidak diperlukan alat pemukul atau jack liner untuk
memasukkan di tempatnya.
·
Apabila ada kesulitan memasukkan liner, maka liner tersebut harus
dikeluarkan kembali dan pump housing serta diameter luar liner harus dicek
seluruhnya sekali lagi dan apakah ada material lain yang menempel di housing
atau di liner.
·
Beberapa pompa liner akan digantung ke bawah dan ditangkap pada guide
rod di belakang. Pada kasus ini akan perlu mengangkat kembali liner untuk
melewati rear pad.
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 129
·
Beberapa pompa didesign liner masuk dan duduk menempel shoulder dipompa
dan membuat metal to metal dengan liner cage.
Dalam masalah
type ini packing dapat dipasang setelah liner duduk di tempatnya, tetapi sekali
lagi seluruh permukaan merata diberikan grease. Ketika memasang liner packing
di pompa, setelah liner dipompa akan lebih mudah memasang bottom section liner
packing lebih dulu. Bottom section dari liner packing yang telah terpasang akan
terbawa terdorong masuk di tempatnya ketika pekerja bor melakukan beban liner.
Satu packing yang telah dipasang di pompa harus didorong ke depan penuh dan
kemudian memasang ring dengan cara yang sama.
·
Semua peralatan yang lain seperti liner retainer dan liner cage harus
diberi greasse merata sebelum dipasang ke dalam pompa dengan beberapa perhatian
diberikan atas susunan dan bagian-bagian dari rangkaian yang akan menekan
melawan packing. Retainer harus dicek apakah rusak atau terkikis dimana ini
akan sangat memperpendek usia liner packing.

Gambar 4.36
Stuffing Boxes
130 -
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
Gambar 4.37
Liner Retainer

Gambar 4.38
Liner Cage
3. Piston and Rod
·
Setelah piston dipasang pada rod kemudian dapat diteruskan memasang
piston dan rod ke dalam pompa.
·
Cek apakah stuffing box telah dibersihkan dan semua packing lama telah
diambil.
·
Rod removal dan instalation tool akan membuat pemasangan piston dan rod
lebih mudah. Piston dibuat dari bahan compound tahan minyak. Line bore dan
TEKNIK DAN
PERALATAN PEMBORAN - 131
piston harus seluruhnya
dilumasi dengan grease biasa (jangan pakai pipe dope).
Pelumasan
cara demikian hanya ditujukan untuk memudahkan pemasangan dan sekaligus melindungi
piston dan liner rusak karet di permukaannya pada saat periode memulai memompa.
Karena rapatnya piston di dalam lubang liner, sangat penting untuk memasukkan
piston dengan mengatur kelurusan dengan bibir miring dari liner.
Apabila
pekerjaan memasukkan tidak dilakukan dengan cara benar, beberapa kerusakan
dapat terjadi pada bibir dari power end piston rubber, yaitu adanya lipatan
karet piston antara liner dan piston rubber. Apabila piston sudah benar-benar
center, liner dimasukkan memakai sebuah knocker, piston dapat didorong masuk ke
dalam liner.
·
Pasang hammer up jam nut pada rod setelah rod tersebut melewati lubang
stuffing box.
·
Piston rod harus tidak ditekan (didorong) kembali dengan pony rod,
karena dapat merusak ulir pada keduanya.
·
Demikian rod packing telah di tempatnya, piston rod dapat disambung.
Sebelumnya check secara visual ulir di pony rod dan juga ulir di piston rod
untuk menyakinkan bahwa tidak ada ulir yang rusak.
·
Ulir pada pump rod harus dilumasi sedikit sebelum disekerupkan rod ke
dalam pony rod. Sebelum itu jangan lupa masukkan hammer up lock nut lebih
dahulu di piston rod.
·
Umumnya ulir lurus di piston rod harus disambung sampai ulir habis dan
kemudian diulir balik 2 sampai 3 putaran.
·
Hammer lock nut harus sudah dikeraskan dengan cara menahan besi penahan
ke sisi lock nut, kemudian besi penahan dipukul beberapa kali.
4. Rod Packing
·
Pemasangan rod packing yang benar akan memberikan masa pakai yang
panjang.
·
Stuffing box harus selalu diperiksa untuk mengecek apakah dalam kondisi baik
atau tidak.
·
Ukuran diameter dalam stuffing box harus dicek apakah terkikis dan
berbentuk membulat.
132 - TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
·
Apabila box jelek mungkin rod packing bocor karena rusak atau piston rod
bulat.
·
Rod packing di dalam stuffing box pelumasan dilakukan terus menerus
melalui lubang di stuffing box.
·
Untuk persiapan lumasi semua packing dengan mencelupkan packing ke dalam
minyak pelumas.
·
Jangan beri grease sewaktu memasang socket ring. Karena grease akan
mengganggu keflexibelan packing, dan ada kemungkinan dapat menahan pasir.
·
Pelumasan tersebut diatas akan memudahkan pemasangan dan pembongkaran
kembali.
5. Cylinder Head
Cylinder head direncakan
untuk menahan liner dan liner packing tetap ditempat dan menahan tekanan lumpur
yang sedang dipompa.
·
Untuk memasang kembali semua bagian cylinder head, liner retainer dan
cage harus dibersihkan dari kotoran dan dicheck adalah rusak terkikis atau
rusak.
·
Dengan pembersihan dan membersihkan grease daerah tempat packing dan
pasang packing baru.
·
Apabila cylinder head dilengkapi dengan liner packing adjusting screw
dan liner adjusting screw, periksa screw diputar keluar sebelum memasang
cylinder head di pompa.

Gambar 4.39
Cylinder Head
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 133
I.
Membongkar dan Memasang
Piston Assembly Membongkar
·
Lepaskan mur (nut) piston sampai ujung mur rata dengan ujung rod, untuk
melindungi ulir didalam pekerjaan melepas flange piston dari rod.
·
Dengan piston rod ditahan dengan posisi tegak pada landasan yang mantap,
dengan menyatukan pemukul menghantam shoulder piston, lakukan terus sampai
piston flange terpisah dari piston rod.
·
Apabila susah untuk dilepas sering dapat dilakukan dengan memberi
getaran dengan memukul-mukul piston rod di dekat piston.
·
Apabila piston rod akan disimpan taper piston harus dilumasi dengan
grease dan tempatkan di tempat yang aman agar tidak jatuh.
·
Apabila memasang piston baru pada rod, rod taper harus dibersihkan
seluruhnya dengan solvent (pelarut) dan kemudian keringkan dengan kain majun
yang bersih.
·
Setelah taper rod dibersihkan seluruhnya dan dikeringkan, piston taper
demikian juga harus dibersihkan dari semua rush inhibitor dan keringkan.
·
Dengan keduanya sama bersih dan kering, piston ditekan pada rod, maka
akan menjadi satu dan lengket diantara kedua taper.
·
Selanjutnya ulir di piston rod dibersihkan dan dilumasi dengan grease,
sampai di permukaan piston, kemudian pasangkan nut-nya.
·
Pemberian grase pada ulir piston dari permukaan piston yang telah
dipasang pada rod akan memudahkan pemasangan dan pelepasan piston nut.
·
Tabung kertas atau plastik pelindung piston rod dari pabrik, masukkan
piston rod kedalam plastic protector dan selanjutnya tabung bersama piston rod
masukkan ke dalam lubang pipa skid pompa atau skid yang lain yang cukup baik
untuk dapat bekerja melakukan pengikatan.
·
Piston harus diberi dengan torsi yang cukup dan tidak boleh terlalu
kecil torsinya, karena dapat menyebabkan piston bergeser-geser di rod dan
terjadi wash out antara taper rod dan taper piston.
·
Apabila piston diikat dengan torsi yang sesuai akan menyebabkan piston
flange mengembang lebih kurang 0,002 sampai 0,004 inchi.
134 - TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
·
Piston
rod terdapat 2 standard API :
a. Standard API tapered non-shouldered rod.
Apabila taper tidak
dibersihkan baik dan kering, tekanan pompa dapat menggerakkan piston lebih
masuk ke taper dan mengunci piston di liner.Hal ini dapat menyebabkan rod
putus, liner retak dan kerusakan pompa lainnya. Kalau pengikatan terlalu keras
menyebabkan piston flange mengembang dan akibatnya piston tidak dapat
dimasukkan ke dalam liner.
b. API-HP tapers rod,
pemasangan dilakukan presstressed pada shoulder, untuk mengurangi high pressure
cyclic stress yang dapat menyebabkan
patah kelelahan.
Untuk mencegah wash out
taper dan rod putus, berikut ini prosedur pemasangan:
a. Pasangkan piston pad rod taper dengan ikatan
tangan. Piston harus mempunyai clearence (stand off) dari rod shoulder 1/32”
sampai 3/32”.
b. Setelah meletakkan piston pada rod, lumasi
thread dan permukaan mur untuk mencegah galling.
c. Keraskan piston rod shoulder dengan nut.
d. Setelah shoulder mulai
contact, beri tanda posisi relatif dari nut dan piston dengan cat, grease dan
lain-lain.
e. Teruskan pengikatan 600 sampai 700 ini akan bergerak 2 smpai
2 ½ spline pada API 5 rod nut dengan 12 spline atau 2 ½ sampai 3 spline untuk
API 6
rod nut dengan 16 spline.
Apabila body
piston akan dipakai kembali, snap ring gampang sekali dilepas dengan memukul
wrench pada snap ring. Snap ring dilepas dan plate dilepas dan piston rubber
baru yang pernah dikapai, check body adakah kerusakan-kerusakan atau aus
melebihi batas limit dan bersihkan semua kotoran-kotoran yang ada. Piston karet
baru ditekan masuk kedalam piston flange, untuk memasang plate dan snap ring
dengan mudah, pasanglah ujung snap ring, dengan sisi segi empat ke dalam groove
di body piston dan snap ring akan masuk dari kanan ke kiri dengan jalan
dipukul.
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 135
J. Membongkar Pompa Single Acting
1. Melepas piston dan rod
Putar pompa
sampai piston rod pada posisi. Stroke ke belakang. Beberapa pompa mempunyai ex
tension pada pinion shaft, sehingga memudahkan diputar dengan kunci pipa di
crank.
·
Lepaskan liner flush (pencuci liner) dan assembly pendingin dan liner
splash shield.
·
Lepaskan piston rod clamp, sebagian terbesar pompa mempergunakan dua
buah rod, beberapa memakai tambahan clamp ketika beberapa memakai ulir.
·
Lepaskan ex tension rod, piston rod dan piston assembly dapat dilepas
tanpa mengganggu liner.
·
Lepaskan piston rod dan piston assembly dapat dilengkapi dengan rantai
melingkar atau tali melingkar sekeliling flange belakang piston rod, atau
memasang special pray tool tersedia pada ulir rod dan dengan memakai pray bar
untuk mengambil assembly dari liner.
2. Melepas Liner
·
Pengambilan liner pada single acting pump, relative sederhana dan lebih
mudah dibanding pompa duplex “L” head pump liner duduk dan ditahan di tempat
dengan external assembly.
·
Dengan memakai sebuah ulir liner retaining nut, dilengkapi dengan set screws.
Untuk melepas liner, lepaskan set screw didalam slot, liner nut harus bebas
diputar-putar, lepaskan liner nut, set screw angkat liner.
Apabila liner telah
diambil, cuci pompa seluruhnya kemudian persiapan memasang liner baru.
K. Membongkar Single Acting Pump-Over-Under Valve
1. Melepas Piston dan Rod.
·
Putar pompa sehingga piston rod ke depan stroke position dengan rod
clamp kelihatan.
·
Melepas
liner flush dan cabut assembly dari liner splash shield.
·
Lepas
rod clamp atau unscrew threads rod.
Operasi mungkin diperlukan
kunci penahan pada cross head rod, atau cara lain mungkin dilepaskan di cross
head.
136 - TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
2. Melepas Liner
Liner-liner pada pompa ini
ditahan dengan clamp di luar atau dengan liner cage. Beberapa liner dipasang
dari sisi power end dan beberapa dipasang dari fluid end. Melepas liner-liner
yang dipasang dari power end, mudah dilakukan dengan memakai sebuah kayu untuk
memukul liner sampai lepas dan kemudian dapat diambil dengan tangan.
Liner-liner
yang dimasukkan melalui fluid end dapat dengan mudah diambil dengan memakai
kayu untuk mendorong liner keluar dengan memutar pompa pakai tangan. Tindakan
tersebut harus hati-hati agar liner terdorong lurus dan tidak
tersangkut.Setelah liner-liner terlepas, cuci pompa merata untuk persiapan
memasang liner baru.
L. Memasang
Kembali Single Acting Pump
1. Memasang Liner.
·
Liner baru harus dibersihkan dari rust inhibitor untuk melindungi selama
pengiriman. Pakailah pencuci protective coating. Keringkan dulu dengan kain majun
yang bersih.
·
Check liner gasket ring grove dan line surface yang akan kontak dengan
cylinder pompa.
·
Pergunakan
sedikit grease di bagian liner untuk penuntun sekitar shoulder di
luar liner.
Untuk pompa dengan liner yang dipasang dari
power end
·
Berikan sedikit grease pada gasket dan pasangkan kembali pada tempat
yang disediakan untuk ujung liner.
·
Geser
liner ke dalam posisinya di pompa.
·
Apabila
telah didudukkan ditempatnya, ganti liner retention assembly dan ikat
sesuai dengan saran pabrik pembuat.
Untuk pompa dengan liner dipasang dari fluid end
·
Untuk
melakukan pemasangan liner ini sebaiknya 2 orang.
·
Lumasi packing dari pasang di pompa satu orang mendorong liner
memasukkan ke dalam posisinya melalui cylinder head opening, yang seorang lagi
dari atas, menangkap ujung belakang liner dan menuntun ke dalam posisinya.
Harus hati-hati jangan sampai merusak packing selama memasang liner.
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 137
·
Pada pompa penahanan liner dengan ditekan liner cage, setelah liner
dimasukkan di tempat, berilah grease pada tempat yang akan dipasang line
packing dan beri grease pada setiap packing, tekan masuk liner packing assembly
ke dalam sampai duduk di shoulder liner.
2. Pemasangan Piston dan Rod.
1. “L” Head Pump
·
Berikan
grease merata pada bagian dalam liner dan piston
·
Luruskan piston di bevel liner, agar mudah masuk dan tidak merusak karet
piston.
·
Gunakan sebatang kayu untuk spacer antara piston rod dan cross head rod.
Sambil menahan piston rod pada posisi yang benar, putar pompa dengan tangan
untuk mendorong piston ke dalam liner.
·
Apabila piston telah terpasang di dalam liner, putar pompa sampai cross
head rod dilangkah ke belakang, untuk mendapat clearance guna memasang
extension rod.
·
Pasang
extension rod and clamp, sesuai saran pabrik.
·
Pasang
liner flush and coalaut assembly dan mengganti liner splash shield.
2. Pompa dengan over dan under valve.
·
Grease
liner bore dan piston dengan rata.
·
Luruskan piston dalam liner dan dorong ia ke dalam liner sampai ujung
piston rod concact cross head rod.
Ini dilakukan apabila rod
removal and instalation tool tersedia dan dapat dipakai.
·
Apabila installation tool tidak tersedia, mungkin perlu mendorong piston
ke dalam liner dengan memakai sepotong kayu dan seorang menahan dan menarik
piston rod ke dalam liner.
·
Sambung
piston rod ke crosshead sesuai saran pabrik.
·
Ganti
liner flushing dan coalant assembly dan splash shield.
3. Single Acting Piston Assembly
Rusaknya
single acting piston dapat dengan mudah dilihat, karena bagian belahan terbuka
maka akan tampak lumpur keluar. Piston ini sangat mudah untuk melepaskannya.
Piston ini memiliki 10 ring yang duduk di coanter bore di body piston dan
membuat kerapatan pada shoulder rod.
138 - TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
Untuk
pemasangan piston yang benar berikut ini prosedur yang harus dipakai:
A. Bersihkan ulir piston, piston rod, dari
permukaan rod yang contact dengan piston flange.
B. Lumasi piston end dari rod (membantu mengurangi
korosi).
C. Berikan grease pada 0 ring
dan periksa tempat kedudukan piston 0 ring groove.
D. Periksa piston pas duduk dengan rod flange.
E. Lumasi ulir rod, piston face, dan elastic stop
nut.
F. Piston dengan 1 ¼ atau 1
5/8 hole harus diset oleh satu person dengan 3 kunci kombinasi
G. Piston dengan 1” lubang
harus dikeraskan tidak lebih dari satu orang dengan kunci 18”
M. Valve Dan Seat
Mechanical
valve seat puller/hydraulic valve seat puller. Bila mengganti valve dan seat,
disarankan memakai mechanical valve seat puller atau hydraulic valve seat
puller. Mengingat melepas seat dengan cara memotong memakai las merupakan
tindakan berbahaya, maka sebaiknya dicoba dahulu memakai puller hydraulic atau
mekanis lebih dahulu.
Puller
head dikaitkan ke cross arm valve, bila sudah kemudian putar baut pada stem,
atau dilepas dengan memutar nut atau memasang dan memukul pasak. Hydraulic jack
puller dipakai sama dengan type puller head seperti wedge type hanya stemnya
lebih panjang, sehingga memungkinkan memakai jack hydraulic untuk mengangkat.

Gambar 4.40
Valve Seat Puller
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 139
Mengganti
dengan memotong dilakukan apabila tidak memiliki rotary puller. Seat dipotong
hati-hati oleh orang yang berpengalaman. Pemotongan sebaiknya dilakukan secepat
mungkin untuk mencegah panas yang berlebihan pada deck, dan mencegah permanent
distorsi di deck taper. Cross area dipotong serta setelah itu potong body seat
jangan lebih 2/3 bagian. Setelah pemotongan selesai, air dingin disemprotkan ke
las seat tersebut, ia akan mudah terlepas bila tidak lepas, dapat diungkit dengan
kunci pipa 24 inchi dengan jaws. Pemasangan
·
Cuci pompa setelah selesai melepas seat dan bersihkan dari
kotoran-kotoran dan drilling mud sebelum kering dan mengeras.
·
Bersihkan
pump deck dari segala kotoran.
·
Bila shoulder di dasar deck harus dibersihkan benar-benar, adanya
kotoran disini akan mengganggu pendudukan seat dari seating dengan tepat.
·
Periksa
taper apakah ada retak atau wash out.
Bila permukaan kasar di
taper, haluskan dengan ampelas halus dengan gerakan memutar keliling.
·
Bersihkan deck dengan solvent dan keringkan dengan memakai kain bersih.
Tetap jaga lumpur atau air, jangan sampai kena taper yang bersih itu.
·
Seat baru biasanya dilapisi rust inhibitor harus dibersihkan baik-baik
sebelum dipasang di pompa.
·
Bersihkan
dengan diesel oil atau larutan lain.
·
Keringkan dengan kain bersih dan pasanglah dengan tangan pada taper deck
& press. Bila memotong dengan las untuk mengambil seat, deck harus
betul-betul dingin.
Penekanan
dengan tangan ini harus cukup membuat seat duduk dan tidak dapat diambil. Bila
tidak kuat duduknya atau dapat diambil lagi, periksa permukaan adakah kotoran
dan lain-lain. Check pula apakah cocok part number dari seat tersebut. Apabila
seat telah duduk lengket lanjutkan dengan memberi pukulan ke bawah beberapa
kali dengan piston rod bekas.
140 - TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
N. Power
End
Power
end dari pompa adalah merupakan bagian yang sangat penting untuk menurunkan
kecepataan putaran dari engine yang tinggi menjadi putaran silinder crank
mechanisme yang rendah dan sekaligus membuat gerakan berputar menjadi gerakan
maju mundur untuk pemompaan bagian fluid end. Gear, bearing, cross head dan
cross head liners merupakan bagian dari power end. Usia kerja dari bagian ini
terutama ditentukan oleh pelumasan dan dilakukan inspeksi secara periodic
komponen-komponennya.
|
1. |
Pelumasan |
|
|
|
Power end pompa dilengkapi dengan filter atau
magnet asembly untuk |
|
|
|
menangkap
contaminant, dipsteck atau
sigh grosses untuk
mencegah |
|
|
|
permukaan minyak pelumas, sebuah pressurized
flow atau splash gravity |
|
|
|
flow lubrication system untuk mendistribusi
pelumas ke bermacam-macam |
|
|
|
komponen
dan bermacam-macam sealing
wiper arangement pada
cross |
|
|
|
head
extension rod untuk
mencegah lumpur dan
air masuk ke
system |
|
|
|
pelumasan di power end. |
|
|
|
Secara
umum jenis minyak
pelumas untuk bagian
power end, adalah |
|
|
|
tergantung Ambient temperature. |
|
|
|
Ambient temperature 30 0F - 155 0F AGMA + 6 EP atau SAE 140 |
|
|
|
Ambient temperature 0 0F |
- 125 0F AGMA + 4 EP
atau SAE 90 |
|
|
Ambient temperature – 20 F - 40 0F AGMA + 1 EP atau SAE 80 |
|
|
2. |
Lubricant contamination |
|
|
|
Kontaminasi dari minyak pelumas di gear oil
adalah merupakan hasil |
|
|
|
sampingan dari operasi sluch pump. |
|
·
Partikel-partikel
metal dari gear, bearing, cross hear.
·
Debu dan lain-lain mungkin masuk power end melalui breather atau cross
head extension wiper.
·
Oxygen.
·
Air.
·
Pelumas
diganti setiap 6 bulan sekali atau sesuai saran pabrik.
·
Mengecheck
dan membuang endapan minyak pelumas.
·
Memelihara
kwalitas pelumas yang bersih.
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN - 141
·
Apabila terdapat air atau lumpur masuk ada kemungkinan disebabkan oleh
sealing wiper arangement cross head extension rod.
3. Sistem pelumasan
Terdapat
beberapa sistem pelumasan pada power end untuk mengumpulkan minyak pelumas dan
kemudian mendistribusikan ke tempat-tempat yang memerlukan :
·
pressured
flow sistem
·
splash
gravity flo system
·
combination
sebagian
terbesar dari pressurized flow yang biasa dipakai, sistem ini memiliki sebuah
gear pump untuk mensirkulasi pelumas.
4. Crosshead extension (pony) rod wiper
Crosshead
extension rod wiper ini merupakan bagian penting untuk memisahkan/menutup
bagian power end agar tidak tercampur lumpur atau air karena splashing atau
spraying air dari lumpur air rod chamber. Packing disini terdapat dua sampai 4
biji dan beberapa design dilengkapi grease fitting untuk memaksimalkan fungsi
wiper.
Minyak
pelumas yang tercampur air, lumpur atau pasir akan mempercepat keausan dari
gears crosshead dan bearing. Crosshead extension rod wiper harus dicheck sehari
untuk melihat adanya kebocoran. Bila ada grease fitting pompakan satu atau 2
stroke hand grease gun.
5. Settling chamber
Banyak
pompe triplex pada power end dilengkapi dengan lubricant setting chamber, untuk
sebagai perangkap endapan atau kotoran di bawah cross head, sebelum minyak ke
gear pump. Dengan setting chamber, air, lumpur dan pasir dan lain-lain
kontaminan dapat dicegah mengotori gear oil.
Settling
chamber biasanya dilengkapi clean out plate dan drain plug di setiap sisi dari
pompa. Setiap hari sekali drain plug di setiap sisi pompa dibuka untuk dapat
membuang air yang terkumpul dan lain-lain. Setiap pekerjaan penggantian pelumas
cover plate harus dilepas dan dibersihkan semua lumpur, sledge, debu-debu dari
settling chamber.
142 -
TEKNIK DAN PERALATAN PEMBORAN
6. Lubricat dirstech dan sight glasses
Ini
merupakan instrument untuk mengecheck tinggi permukaan pelumas di dalam power
end. Selain dari pada itu sight glasses dapat pula dipergunakan oleh mechanic
untuk monitor kontaminasi yang terjadi di gear oil.Tinggi permukaan pelumas
power end reservoir harus dicheck paling sedikit seharis ekali dengan pompa
diberhentikan terlebih dahulu.
O.
Rangkuman
1. Untuk keperluan perawatan
pompa lumpur sangat dibutuhkan kemampuan dalam membongkar dan memasang pompa
lumpur.
2. Di operasi pengobaran
terdapat 2 jenis pompa lumpur yaitu Duplex (double acting) dan Triplex (single
acting).
3. Kegiatan bongkar pasang
pompa lumpur antara lain : membongkar dan memasang pompa duplex, membongkar dan
memasang pompa single acting, valve dan seat serta power end.
P.
Latihan
1. Sebutkan kegiatan apa saja
dalam membongkar dan memasang pompa lumpur!
2. Sebutkan prosedur dalam membongkar dan memasang
pompa duplex!
3. Sebutkan prosedur dalam membongkar dan memasang
pompa single acting!
4. Sebutkan prosedur dalam membongkar dan memasang
valve dan seat!
5. Sebutkan prosedur dalam membongkar dan memasang
power end!





Komentar
Posting Komentar