Fly Rock Handling

 Fly Rock Handling

Description: Exa Accident by Fly rockDescription: Dozer Accident by Fly Rock

Semua praktisi peledakan tentu sepakat bahwa radius aman unit adalah 300 m dan manusia 500 m dari lokasi peledakan. Ketika pada kondisi semua unit dan manusia bisa di evakuasi tentu adanya fly rock tidak menjadi kekhawatiran yang serius. Namun ketika ada kondisi atau masalah yang berakibat unit, fasilitas atau manusia tidak bisa atau sulit untuk di evakuasi (contoh situasi di Gambar 1) sehingga nya seorang juru ledak di tuntut untuk bisa melakukan langkah-langkah antisipasi.

Description: Tambang near community
Gambar 1. 
Situasi Tambang

Mekanisme Terjadi Flyrock.

Terjadinya flyrock yang berlebihan dari kegiatan peledakan bisa dibagi dalam 3 mekanisme keterjadiannya, dimana bisa karena kondisi kurang nya keterkungkungan energi dalam kolom ledak, selain itu dapat terjadi juga jika perbandingan burden dengan dimeter lubang terlalu kecil, atau adanya zona lemah dibagian freeface.

Description: Mekanisme Fly rock

Gambar 2. Mekanisme terjadinya excessive flyrock

·         Face Burst ; penentuan burden sangat berpengaruh terhadap seberapa jauh fly rock di bagian face.

·         Cratering ; jika rasio panjang stemming terlalu kecil terhadap diameter lubang, atau karena adanya zona batuan lemah di bagian collar, pada mekanisme ini batu terbang bisa ke berbagai arah.

·         Rifling ; jika panjang stemming sudah memadai dan tidak terjadi crater, maka fenomena ini akan muncul ketika terjadi lemparan flyrock ke arah atas yang tinggi, kemudian adanya material ejection dari batuan stemming ataau material lepas dibagian collar, dimana hal ini sebagian besar karena adanya panjang kolom stemming yang tidak pas atau jenis/ukuran material stemming yang tidak tepat.

Pada mekanisme terjadinya flyrock karena adanya Rifling potensi lemparan lebih ke arah atas, sementara pada fenomena face burst dan crater arah lemparan bisa terjadi pada sudut lebih rendah sehingga memungkinkan arah lemparan cukup jauh dan berdampak sangat berbahaya, sehingga perlu menjadi perhatian lebih adalah sedemikian rupa kita harus bisa mengidentifikasi akan kemungkinan terjadi fenomena faceburst dan cratering.

Description: Mekanisme Fly rock2 

Gambar 2. Planview terjadinya exces flyrock

1.    Pengendalian Face burst

Description: Face Burst

Lemparan batu yang jauh akibat mekanisme face burst perlu dikendalikan dengan beberapa langkah berikut.

·         Proses prepare lokasi

1.    Jika memungkinkan untuk dilakukan choke blasting adalah alternatif terbaik, dengan jarak material choke setidaknya 2 x burden dari rencana titik terluar dibagian sisi face. (gambar)

2.    Saat tidak bisa dilakukan choke blasting, maka pastikan lebih dulu dibagian face bersih dari material lepas baik kecil atau besar hingga ke bagian toe dari face.

3.    Jika 1.b. maka Setelah bersih identifikasi ada tidaknya zona lapisan batuan lemah di bagian face, atau penipisan burden terutama di bagian kolom charge, dan dikoordinasikan dengan Pengawas Peledakan.

4.    Ketika bagian face tidak bisa di clean karena kondisi batuan dan lainnya maka segera diinformasikan ke Pengawas agar menjadi perhatian saat proses charging.

·         Proses desain pola pemboran dan pemasangan titik bor

1.    Pada batuan lunak buat pola sedemikian rupa agar titik pada row pertama ditempatkan pada jarak sama dengan atau lebih dari 1x burden.

2.    Pada batuan keras ketika bentuk face tidak rata maka upayakan posisi row terdepan tidak kurang dari 1/2 burden.

3.    Penambahan titik pemboran “satelit” atau “extra” harus persetujuan Superintendent.

·         Proses Pemboran

1.    Pada proses pemboran pastikan bahwa sudut pemboran adalah 90o jika tidak bisa presisi maka orientasi kan arah bor menjauhi face dengan toleransi kemiringan hanya 3o maks depth 10 m (deviasi bottom 0,5 m).

2.    Pada zona transisi lunak ke keras, lakukan record tambahan dengan menuliskan keterangan kedalaman lapisan lunak dan kerasnya.

3.    Identifikasi dengan detail dan laporkan jika diindikasii adanya zona batuan lemah di tengah atau dibagian bawah kepada pengawas peledakan.

4.    Pengawas peledakan harus melakukan crosscheck kondisi kekerasan material batuan dari kondisi cutting material dan data log bor, untuk perencanaan pengisian bahan peledak.

·         Proses desain pola ledak dan charging sheet

1.    Buat desain ledak dengan arah lemparan menjauhi areal kritis.

2.    Plan charging merunut kepada data log bor terkait kondisi kekerasan batuanperlapisan lunak/keras dan ada tidaknya choke material di face, sehingga jumlah charging di setiap lubang akan berbeda.

3.    Pada batuan lunak gunakan plan isian dengan SdoB 1,8 up, sedangkan pada batuan keras perlu dikaji lebih lanjut.

4.    Ketika ada bagian lunak di bagian face maka hindari posisi primer dan kolom bahan peledak pada bagian tersebut.

5.    Ketika tidak ada choke material di bagian face maka gunakan formula bahan peledak total emulsion pada 2 row paling dekat dengan face.

Description: Cratering Ilustrasi

·         Proses charging dan stemming

1.    Pada kondisi-kondisi tertentu berdasarkan kondisi dilapangan maka pengawas peledakan boleh mengurangi (menambah tidak boleh) jumlah isian dengan tetap dikoordinasikan kepada Drill & Blast engineer.

2.    Kondisi-kondisi yang dimaksud di point 5.a ;

1.    Adanya lapisan lunak disebagian atau seluruh kolom ledak

2.    Kedalaman lubang berkurang dari data marking akibat runtuhan material.

3.    Pengawas peledakan harus memastikan bahwa stemming kolom sesuai dengan plan charging

4.    Pengawas peledakan harus memastikan tidak terjadinya over charge, ketika terjadi maka harus dilakukan penganganan dengan cara mengambil main charge dari kolom ledak menggunakan paralon khsusus.

5.    Pengawas peledakan harus memastikan proses stemming menggunakan agregat khusus dan proses tamping benar-benar dilakukan.

·         Monitoring

1.    Lakukan pengecekan material cutting dari pemboran oleh pengawas peledakan terkait perlapisan batuan dalam lubang bor.

2.    Identifikasi secara detail adanya zona-zona lemah dan face yan terlalu tipis apabila diindikasi berpotensi terjadinya face burst.

3.    Monitoring proses charging dan stemming agar sesuai dengan plan merupakan kunci utama agar kegiatan bisa berhasil.

4.    Pantau kembali apabila ada kolom stemming yang melorot dan lakukan stemming kembali untuk memperbaiki.

5.    Pantau dan dokumentasikan proses kegiatan penembakan terkait ada tidaknya proses heave berlebih atau lemparan yang terlalu jauh.

 2. Pengendalian Cratering

Fly rock dari cratering biasanya diakibatkan oleh antara lain :

·         Kolom charge yang berlebih

·         Adanya lapisan lunak dibagian collar

Langkah pengendalian agar meminimalisr terjadinya cratering adalah dengan beberapa langkah pengedalian face burst diatas, dan perlu lebih perhatian lebih lagi terhadap:

·         Lakukan kemiringan pemboran presisi tegak lurus dengan toleransi 3o.

·         Memastikan kolom jumlah isian dengan menggunakan meteran telah sesuai dengan plan charging (tidak terjadi overcharge) dan berhati-hati pada zona batuan lunak (dimana kadang lubang melebar/menyempit) atau berongga ketika jumlah isian sudah sesuai plan pada panel kontrol MMU namun kolom stemming tidak sesuai, bila ada kondisi ini segera laporkan ke pengawas peledakan.

·         Ketika terjadi kasus di point 2, maka pengawas harus memastikan :

1.    Apabila lubang berongga atau melebar pastikan apakah primer sudah nyangkut di kolom bahan peledak atau tidak, jika belum lakukan pengisian ulang dengan cara memasukkan primer kedalam kondom sebanyak 3kg.

2.    Apabila lubang menyempit dan kolom stemming lebih pendek dari plan, maka sebagian material isian utama harus dikurangi dengan cara penimbaan dengan paralon hingga kolom stemming sesuai.

·         Memastikan kondisi perlapisan kekerasan batuan pada kolom ledak berdasarkan data log bor, sehingga primer dan isian utama berada pada zona keras.

·         Pada batuan lunak (soil) dan dangkal (kurang dari burden) maka pengisian lubang harus menggunakan liner dan isian tidak lebih dari 3 kg.

 3. Pengendalian Rifling

Batu terbang akibat adanya rifling diakibatkan adanya unconfine stemming, atau burden yang terlalu besar atau energi bahan peledak terlalu kecil.

Pengendalian agar tidak terjadi rifling bisa dengan beberapa hal berikut:

·         Pengawas peledakan memastikan kolom stemming sesuai plan dengan menggunakan meteran.

·         Lakukan stemming dengan material agregat khusus dan tidak boleh dengan cutting bor dan di tamping.

·         Pastikan oleh pengawas bahwa kegiatan stemming telah dilakukan dengan benar dan material yang sesuai.

·         Cleaning bagian collar dari batuan lepas yang berukuran besar ( > 1/2 dia lubang) untuk mengantisipasi terjadinya dampak buruk apabila terjadi rifling.

Estimasi jarak lemparan Fly Rock

Terrock Golden Formula

Description: Terrock formula

 Lmax = maximum throw (m)

 m = Charge mass per meter (kg)

 B = Burden (m)

 L maximum adalah saat sudut 45o(Ø )

 K = 17,2

Ketika terjadi lemparan excessive flyrock yang berlebihan (misal satu kasus lemparan hingga 247 m)

 Pada proses terjadinya incident jarak lemparan hingga 247 m, dicari terlebih dahulu seberapa jauh lemparan normal dengan pendekatan formula Terrock Golden diatas.

Lmax = 30,18 x 2,08

Lmax = 62,7 m

Dengan pendekatan Terrock Golden Formula, seharusnya lemparan berkisar antara 62 m, namun dalam kasus kejadian excessive flyrock adalah hingga 4x lipat jarak lemparan normal.

Sehingga dari jarak 247 m maka di traceback dengan formula tersebut untuk mencari nilai K.

   K2     =  Lmax            =>   K = 247 x 9,8

  9,8         2,08                                 2,08

K2 =  1163    =>  K = 34 (standar K = 17,2)

Nilai K yang diperoleh adalah 2x lebih besar dari nilai standard, hal ini bisa diindikasi adanya kondisi batuan yang jauh lebih lemah atau kekuatan energi gas yang lebih besar dari fenomena standar.

Bottom of Form

 

Komentar

Postingan Populer