GAS LIFT
GAS
– LIFT
1-1. PENDAHULUAN
Sumur-sumur
minyak yang laju produksinya (sudah) rendah atau bahkan sudah tidak mampu
mengalirkan minyak ke permukaan dapat ditingkatkan/ dihidupkan kembali dengan
menggunakan pompa atau gas (gas lift). Pemakaian pompa dan gas lift pada suatu
lapangan perlu memperhatikan :
- Karakteristik fluida yang akan diproduksi
- Kemiringan sumur
- Rata produksi yang diinginkan
- Kekompakan formasi
- Dan lain-lain
Khususnya
yang akan dibicarakan di bawah ini adalah cara produksi dengan gas lift.
Gas
lift merupakan salah satu metode pengangkatan buatan di samping metode
pemompaan, setelah cara sembur alam tidak dapat dilakukan.
Gas
lift didefinisikan sebagai suatu proses/ metode pengangkatan fluida dari lubang
sumur dengan cara menambahkan gas/ menginjeksikan gas yang relative bertekanan
tinggi ke dalam kolom fluida.
Pada
gas lift ini diperlukan tekanan injeksi yang tinggi, sehingga
diperlukan juga kompresor yang mempunyai horse power yang tinggi pula, oleh
karenanya dibuat agar horse power kompresor kecil tetapi tekanannya tinggi,
yaitu dengan menggunakan valve.
Syarat-syarat
suatu sumur dapat di gas lift :
1. Tersedianya gas yang memadai untuk injeksi, baik dari
reservoir itu sendiri maupun dari tempat lain.
2. Fluid level masih tinggi
Pada
proses gas lift, pengangkatan fluida didasarkan pada salah satu cara sebagai
berikut :
1. Pengurangan gradient fluida
2. Pengembangan dari pada gas yang diinjeksikan
3. Pendorongan fluida oleh gas
Proses
dari pada gas lift dapat diterangkan dari sebagai berikut :
Cairan
yang ada pada annulus ditekan oleh gas injeksi, akibatnya permukaan cairan
sekarang berada di bawah valve, pada saat ini valve yang pertama membuka
sehingga gas akan masuk pada tubing, sehingga density minyak turun akibatnya
gradient tekanan kecil dan minyak dapat diangkat ke atas.
Gambar 1
Skema Gas Lift
Ditinjau dari cara penginjeksian gas,
gas lift dapat dibagi dalam :
- Continuous gas lift
- Intermittent gas lift
1. Continuous gas lift
Pada
continuous gas lift, gas diinjeksikan secara terus menerus ke dalam annulus dan
melalui valve yang dipasangkan pada tubing, gas masuk ke dalam tubing.
Secara
relatif, yaitu dibandingkan dengan kedalaman sumur continuous gas lift
digunakan apabila tekanan dasar sumur dan productivity index sumur tinggi.
2. Intermittent gas lift
Pada
intermittent gas lift, gas diinjeksikan secara terputus-putus pada selang waktu
tertentu dengan dan gas diinjeksikan selama waktu tertentu dengan rate yang
besar dengan demikian injeksi gas merupakan suatu siklus injeksi dan diatur
sesuai dengan rate fluida dari formasi ke lubang sumur.
Pengaturan
frekuensi injeksi diatur di permukaan dengan menggunakan choke, pressure
regulator, time cycle controlle atau spread dari valve yang didefinisikan
sebagai perbedaan antara tekanan casing untuk membuka dan menutup valve. Choke
di permukaan dapat diatur baik berdasarkan terjadinya kenaikan tekanan casing
maupun tekanan tubing.
Secara
relatif terhadap kedalaman sumur, intermittent digunakan apabila productivity
index besar dan tekanan static dasar sumur kecil atau productivity index kecil
dan tekanan static dasar sumur besar.
Siklus
intermittent
Dalam
metode intermittent, sebelum gas diinjeksikan, minyak dibiarkan dulu membentuk
kolom (slug) di atas valve (gas lift) di dalam tubing. Karena gas diinjeksikan
dan tekanan naik di dalam annulus maka valve membuka pada tekanan bukanya yang
diikuti oleh aliran gas di dalam tubing. Gas ini akan mengalir kembali ke
bawah. Pada waktu slug tadi mencapai permukaan, slug berikutnya telah terbentuk
karena aliran dari formasi. Gas diinjeksikan, valve terbuka sehingga gas akan
mendorong slug dan demikian seterusnya slug demi slug diangkat ke permukaan.
Beberapa kelebihan gas lift dibandingkan dengan metode
pengangkatan buatan lain, yaitu :
1.
Biaya
peralatan awal biasanya lebih tinggi karena harus pakai kompresor
2.
Pasir yang
ikut terproduksi tidak merusak kebanyakan instalasi gas lift. Sifat pasir
abrasive.
3.
Gas lift
tidak tergantung/ dipengaruhi oleh design sumur. Mau vertical atau directional
well bisa dipakai.
4.
Umur
peralatan lebih lama.
5.
Biaya
operasi biasanya lebih kecil.
6.
Ideal
untuk sumur-sumur dengan GOR tinggi.
Meskipun demikian metode gas lift mempunyai
batasan-batasan berikut :
1.
Gas harus
tersedia.
2.
Sentralisasi
kompresor sulit untuk sumur-sumur dengan jarak terlalu jauh.
3.
Gas yang
tersedia sangat korosif, kecuali diolah sebelum digunakan.
Maksud
dari pada intermittent dan continuous gas lift adalah identik untuk
menghasilkan tekanan aliran dasar sumur (FBHP) agar dapat berproduksi pada rate
yang diinginkan.
Secara
keseluruhan proses gas lift dapat dibagi dalam 2 (dua) tahap :
1.
Tahap Un
loading
Yaitu :
proses pengosongan sumur dari fluida workover (fluida yang digunakan untuk
mematikan sumur)
2.
Tahap
pengangkatan fluida
Pada tahap
unloading, valve yang bekerja lebih dari satu valve yaitu valve-valve diatas
operating valve, sedang pada proses pengangkatan valve yang bekerja hanya satu
valve yaitu operating valve yang merupakan valve terbawah.
1-2. INSTALASI GAS LIFT
Yang
dimaksud dengan instalasi disini adalah peralatan di dalam sumur atau cara
penyempurnaan (completion) sumur pada waktu sumur dibuat. Sebaiknya pada awal
pemasangan tubing perlu direncanakan metode produksi apa yang akan diterapkan
suatu waktu nanti.
Untuk
penerapan gas lift yang penting diketahui adalah instalasi dan kondisi sumur
yang bersangkutan. Intermittent atau continuous gas lift yang akan bisa
diterapkan pada sumur itu.
Macam-macam
instalasi gas lift :
1. Open installation
2. Semi closed Installation
3. Closed Installation
4. Chamber Installation
5. Macaroni Installation
6. Dual Installation
Ad.1. Open
installation
Pada
type ini tubing string digantung di dalam sumur tanpa packer, gas diinjeksikan
ke dalam ruang annulus dan cairan didesak keluar melalui tubing.
Pada
umumnya type ini hanya digunakan pada continuous gas lift walaupun untuk
intermittent pun dapat digunakan. Untuk kondisi ini sebaiknya packer dipasang
bila memungkinkan untuk mengurangi pengaruh tekanan injeksi terhadap formasi.
Ad.2. Semi
closed Installation
Disini
packer ditambahkan untuk menyekat tubing dengan casing. Digunakan untuk baik
continuous maupun intermittent gas lift dan adanya packer dimaksudkan untuk
menjaga fluida dari dasar lubang tidak masuk di dalam ruang annulus.
Jadi
disini pengaruh terhadap injeksi terhadap formasi dicegah oleh packer.
Ad.3. Closed Installation
Disamping
packer juga dipakai standing valve yang dipasang di bagian bawah dari tubing di
bawah valve paling bawah. Standing valve dimaksudkan untuk menjaga tekanan gas
ketika gas diinjeksikan masuk ke dalam tubing melalui valve-valve.
Digunakan
pada intermittent apabila :
- SBHP rendah dan PI tinggi, atau
- SBHP rendah dan PI rendah
Untuk
installation tertutup pada intermittent gas lift karena pembentukan slug tidak
dipengaruhi oleh tekanan injeksi. Disini tekanan injeksi sama sekali tidak
beraksi kepada formasi karena dihalangi oleh adanya stading valve.
Ad.4.
Chamber Installation
Instalasi
gas lift ini mirip dengan yang tertutup. Bedanya adalah pemakaian ruang
akumulasi (chamber) minyak disini. Pemakaian chamber adalah untuk memperkecil
tekanan kolom minyak (hydrostatichead) dalam tubing dan memperbesar rate
produksi.
Jika
pasir terproduksi bersama minyak, maka chamber khusus harus digunakan. Type
instalasi ini baik untuk sumur yang mempunyai kondisi SBHP rendah dan PI
tinggi.
Ada 2
(dua) macam type chamber yang penting :
a. Two Packer Installation
b. Insert Chamber Installation
Di samping
type diatas terdapat pula type chamber untuk maksud-maksud tertentu seperti :
c. Special Chamber Installation
Digunakan
untuk menangani adanya pasir yang terbawa fluida.
d. Special Deep Chamber Lift Installation
Digunakan
untuk sumur-sumur dalam > 10.000 ft
Ad.5.
Macaroni Installation
Macaroni
disini dimaksudkan adalah string (tubing) terkecil yang dipasang untuk
mengangkat fluida ukuran tubing terkecil bisaanya 1 – 11/2 dan
tubing yang berfungsi sebagai casing kedua bisaanya berukuran 2 3/8 –
2 7/8 inchi. Tipe ini digunakan apabila fluida
sumur sangat korosive sehingga memudahkan penggantian tubing yang berfungsi
sebagai casing sehingga tidak merusak casing utama.
Macam-macam instalasi macaroni yaitu :
a. Macaroni – Concentric Dual Completion
Digunakan
apabila terdapat dua zone produktif dimana pengangkatan fluida zone bagian
bawah secara gas lift dan zone atas tetap sembur alami (flowing).
b. Macaroni – Parallel String Completion
c. Macaroni
– Multiple String Small Diameter Completion
Digunakan
apabila terdapat lebih dari 2 zone produktif
Ad.6. Dual
C Installation
a.
Dual
Installation With Parallel Tubing
Dapat
digunakan untuk :
- kedua-duanya continuous
- kedua-duanya intermittent
- salah satu, intermittent/ continuous
-
b.
Dual
Installation With Concentric String
Dual
installation adalah instalasi dimana dua formasi produktif diproduksikan
melalui dua tubing yang terpisah dalam satu sumur.
Kedua
formasi itu dipisahkan dengan packer. Pada prinsipnya aplikasi gas lift untuk
dual sama dengan yang single string.
1-3. MEKANIKA VALVE
Secara
umum valve harus memenuhi keadaan sebagai berikut :
1.
Untuk
aliran continue suatu valve harus mampu mengalirkan gas ke dalam tubing dan
mempertahankan tekanan konstan di dalam tubing.
Continuous
flow valve bisa terbuka oleh :
a. Tekanan casing (build – up)
b. Tekanan tubing (build up)
c. Kombinasi dari kenaikan tekanan di casing dan tubing
2.
Untuk
intermittent flow, valve harus mampu terbuka (selebar ukuran port) selebar
mungkin segera setelah mulai terbuka (tringgered too open). Harus tetap terbuka
lebar sampai waktu penutupan.
Ukurann
port sekitar ¼ - 1 inchi, yang tergantung dari ukuran tubingnya.
Intermittent
valve bisa terbuka dengan beberapa cara :
a. hanya dengan kenaikan tekanan di casing
b. hanya oleh beban fluida di dalam tubing
c. oleh kombinasi kenaikan tekanan di casing dan tubing
Di
dalam banyak hal, kenaikan tekanan buka valve akibat temperatur dalam sumur
diimbangi oleh berat kolom gas di casing dan tekanan kolom fluida di dalam
tubing. Dengan demikian mengapa valve dirancang (set-up) pada kondisi permukaan
akan bekerja baik pada kondisi dalam sumur. Namun demikian sedikit banyak
kenaikan temperatur akan mempengaruhi tekanan buka valve.
Di
dalam menganalisa gaya-gaya yang bekerja dalam sistem valve, baiklah kita
perhatikan untuk bellow valve.
- Intermittent Bellow Valve
Perhatikan
gambar 6a-1
- Gaya agar valve tertutup adalah :
Fo =
Pd . Ab …………………………………(1-1)
- Gaya untuk membuka valve adalah :
Fo =
Pc . (Ab – Ap) + Pt .
Ap …………………………………(1-2)
Dalam
keadaan seimbang :
Pd .
Ab = Pc . (Ab – Ap)
+ Pt . Ap …………………………………(1-3)
Dimana :
Pd =
tekanan di “dome”, psia
Ab =
luas permukaan bellow, sq - in
Pc =
tekanan untuk membuka valve, psia
Ap =
luas penampang port (tubing entry port), in2
Pt =
tekanan dalam tubing, psia
Dari pers (1-3) bisa diperoleh :
Pc = …………………………………(1-5)
Jika :
= R, diketahui untuk suatu valve tertentu
Maka :
Pc = …………………………………(1-5)
Tepat pada saat valve akan membuka
Contoh :
Data diketahui sebagai berikut :
Pd =
700 psig
Pa =
14,7 psia
Pt =
0 psig
Ap =
0,1 in2
R =
0,1 / 1 = 0,1
Ab =
1 in2
Dari pers (1-3) bisa diperoleh :
Apabila : Pt = 0
psig, maka :
Tekanan buka valve adalah :
Pc = = 791,7 psia
=
777 psig
Dengan demikian valve terbuka
sehingga gas dapat masuk ke tubing akibatnya
Pc akan/ makin lama
turun hingga menyamai tekanan dari pada dome sehingga valve kembali tertutup.
Dengan demikian harga maksimum
spread valve adalah :
777 – 700 = 77 psig
Jika sekarang Pt =
400 psig, maka tekanan buka valve adalah
Pc = = 747,7 psia
=
733 psig
Jadi
dengan adanya atau makin besar tekanan di dalam tubing tekanan buka valve akan
berkurang.
Sehingga
maximum spread adalah 733 – 700 = 33 psig
Jadi
kesimpulannya bahwa : Spread dari pada valve akan turun dengan naiknya tekanan
tubing.
Dalam
intermittent, valve harus membuka penuh ketika tekanan buka tercapai. Gas akan
mengangkat slug diatas valve tersebut. Karena alasan ini adalah penting untuk
mempunyai port yang besar agar gas secara cepat ditransfer dari casing ke dalam
tubing. Harga minimum ukuran port yang dianjurkan adalah ½ in.
- Continuous Bellow Valve
Valve
untuk continuous gas lift mirip dengan yang intermittent. Bedanya yaitu
terdapat choke pada valve (lihat Gb. 6a-2). Guna choke ini adalah agar tekanan
pada “stem dan seat” tidak besar karena adanya kehilangan tekanan setelah
melewati choke tersebut. Jadi valve macam ini sesuai untuk aliran continuenya,
jika valve yang mempunyai port kecil digunakan, maka jarak antara valve (spaci)
diperkecil. Hal ini karena volume gas yang mengalir melalui port tidak besar
dalam proses unloading.
Gaya yang
bekerja pada valve ini adalah
Gaya menutup
= Pd . Ab
Gaya membuka
= Pc (Ab – Ap) + Pt .
Ap
Namun
demikian ketika valve terbuka, gaya yang cenderung untuk menutupnya berbeda
dengan yang bekerja pada intermittent valve : pada continuous valve tidak harus
turun sampai gaya di dome.
- Balance Pressure Valve
Tujuan
permakaian valve ini adalah agar dapat menggunakan port dengan ukuran besar
tetapi valve spread tidak besar.
Untuk
valve ini, R = R’ =
Gaya-gaya
pembukaan, Fopen
1.
Gaya yang
bekerja pada bellow
Pc (Ab +
As)
2.
Gaya yang
bekerja pada stem
Pt (As –
Ap)
3.
Gaya yang
bekerja pada port
Pc (Ap)
Gaya-gaya
penutupan, Fclosed
Pd.
Ab
Sehingga
keseimbangan gaya, Fopen = Fclosed
Pc (Ab –
As) + Pt (As – Ap) + Pc.
Ap = Pd.Ab
Pc =
Pc =
Gambar
16
Balance
Pressure Valve
- Pilot Operated Valve
Apabila
tekanan casing bekerja pada pilot bellow, maka pilot port akan terbuka dan gas
akan masuk ke ruangan di atas piston pada power section. Gas ini akan mendorong
piston pada power section tersebut dan akan membuka main port dan gas akan
masuk ke dalam tubing
- Gas
Charged Bellow Type
- pembukaan dan penutupan valve diatur oleh tekanan dari
tubing.
- Tekanan casing hanya bekerja pada port saja pada waktu valve
tertutup.
- Apabila valve terbuka karena adanya restri pada entry akan
mengurangi tekanan yang bekerja pada main port, sehingga yang bekerja pada main
port hanya tekanan tubing.
Keseimbangan
gaya pada saat sebelum terbuka.
Pt -
(Ab – Ap) + Pc.Ap = Pd.Ab
Sehingga
:
Pt =
Pt =
- Balanced
Tubing Pressure Operated Valve
Keseimbangan
gaya saat/ sebelum valve terbuka :
- Gaya pembukaan
Pada
bellow : Pt (Ab – As)
Pada port
: Pt . Ap
Pada stem
: Pc (As – Ap)
- Gaya penutupan
Pd . Ab
Pt (Ab –
As) + Pt.Ap + Pc (As –
Ap) = Pd.Ab
Pc Ab –
Pt (As – Ap) = Pd Ab –
Pc (As – Ap)
R’ =
Sehingga
Pt =
1-4. JENIS-JENIS VALVE GAS LIFT
Pada
prinsipnya fungsi semua valve adalah sama, yaitu :
1.
Untuk
mengosongkan sumur dari fluida workover atau kill fluid supaya injeksi gas
dapat mencapai titik optimum di dalam tubing.
2.
Mengatur
aliran injeksi gas ke dalam tubing baik proses unloading maupun proses
pengangkatan fluida.
Secara
umum valve gas lift dibagi berdasarkan :
1.
Pada
penggunaannya
2.
Pada
elemen yang mengatur kerja valve
ad.1. Berdasarkan penggunaannya
valve gas lift dibagi menjadi
a.
Continuous
flow
- Fixed orifice
- Variable orifice
b.
Intermittent
flow
- Yang diatur oleh tekanan tubing maximum
- Yang diatur oleh tekanan tubing minimum
ad.2.
Berdasarkan elemen yang mengatur kerja valve, maka valve gas lift dibagi
menjadi :
a.
Gas
charged bellow chamber
b.
Gas
charged piston chamber
c.
Gas
Charged Rubber/ Flexible sleeve chamber
d.
Spring –
loaded differential Valve
e.
Spring
pilot loaded
f.
Kombinasi
spring dan gas charged bellow
g.
Liquid
charged diaphragma
Jadi
elemen utama dari pada valve adalah bellow, spring, piston, kombinasi bellow
dan spring, rubber/ Flexible sleeve dan diaphragma.
Berdasarkan
gaya-gaya yang bekerja menutup dan membuka valve untuk mengontrol aliran gas,
maka jenis valve dikelompokkan dalam dua bagian, yaitu :
1.
Unbalanced
Valve, terdiri dari :
a. Pressure operated unbalanced valve
b. Fluid operated unbalanced valve
2.
Balanced
valve, terdiri dari :
a.
Pressure
operated balanced valve
b. Fluid
operated balanced valve
Pressure
Charged Valve
Atau
dikenal juga sebagai bellow valve. Bellow valve mempunyai bellow berisi gas
(nitrogen) dengan tekanan tertentu. Jenis valve ini paling disukai dewasa ini.
Sebagian valve ini dikombinasikan pula dengan spring untuk membantu kerja
bellow. Valve ini mudah dikontrol dan tahan lama serta dapat digunakan untuk
intermittent dan continuous gas lift.
Spring-loaded
differential Valve
Valve
jenis ini mempunyai spring. Spring ini mempunyai tekanan tertentu untuk menutup
aliran gas. Dalam keadaan normal (di udara terbuka) valve akan terbuka. Di
pabrik valve jenis ini sudah diset dengan tekanan spring antara 100 – 150 psi
yang mana berarti bila selisih tekanan annulus – tubing melebihi harga ini
valve akan tertutup. Valve jenis ini hanya digunakan untuk continuous gaslift.
Flexible
Sleeve Valve
Yang
mengontrol aliran gas masuk ke dalam tubing adalah karat yang mudah melentur
(flexible). Perhatikan Gb.5. Valve ini mempunyai dome (ruang) berisi
gas alam kering dengan tekanan tertentu. Tekanan buka velve sama dengan tekanan
tutupnya dan juga sama dengan tekanan gas dalam dome.
Valve ini dapat digunakan untuk aliran
intermittent maupun continous dengan injeksi gas diatur / dikontrol
dipermukaan.
Pada prinsipnya perbedaan antara
unbalanced dan balance valve terletak pada perbedaan tekanan membuka dan
menutup valve. Unbalanced valve mempunyai perbedaan tekanan untuk membuka dan
menutup valve. Perbedaan tekanan ini disebut “Spread”, sedangkan pada balanced
valve, tekanan membuka sama dengan tekanan untuk menutup valve tersebut. Jadi pada balanced, spreadnya sama dengan nol.
1 –
5 PERENCANAAN GAS LIFT
Terdiri
dari perencanaan terhadap :
1. Jumlah gas yang tersedia
2. Spasi / jarak valve.
3. Jenis valve yang digunakan.
4. Tekanan pambukaan dan penutupan valve.
5. Kompresor.
Hal-hal
yang harus ditentukan terlebih dahulu sebelum melakukan perencanaan gas lift
adalah menentukan caa gas lift mana yang akan dilakukan, continous atau
intermittent gas lift.
Untuk
itu perlu ditinjau :
1.
Produktivitas
sumur (PI)
2.
Tekanan
statis dasar sumur (SBHP)
Batasan-batasan
secara relative yang sering digunakan untuk :
PI besar
adalah apabila PI > 0,5
PI kecil
adalah apabila PI < 0,5
SBHP besar
apabila SBHP akivalen 70% ketinggian kolom fluida
SBHP kecil
apabila ekivalen 40% ketinggian kolom fluida.
Valve
yang dipasang pada tubing, antara satu dengan yang lainnya mempunyai jarak
tertentu dan letak dari pada valve dipengaruhi oleh :
1. Tekanan gas yang tersedia untuk proses unloading
2. Gradient fluida dalam sumur pada saat unloading
3. Inflow performance sumur pada saat unloading
4. Fluida level dalam casing
5. Tekanan dasar sumur dan karakteristik produksi sumur
1-5.
1. PERENCANAAN CONTINOUS GAS LIFT
Untuk
memberi gambaran tentang perencanaan continous gas lift perhatikan grafik
berikut ini.
Grafik
diatas adalah curva penurunan tekanan selama aliran dasar sumur (pwf)
sampai ke permukaan (pt). apabila dapat diperkirakan gradient
tekanan aliran rata-rata dibawah dan diatas titik injeksi, maka P wf dapat
dihitung, dengan :
P wf =
P t + G fa L + G fb (D-L)
Dimana :
P t =
tekanan pada well-head
L =
kedalamam titik injeksi
D =
kedalaman sumur, Depth
G fa =
gradient tekanan aliran rata-rata diatas titik injeksi.
G fb =
gradient tekanan aliran rata-rata dibawah titik injeksi.
Dengan
demikian tujuan dari pada perencanaan gas lift ini adalah menentukan P wf yang
diperlukan supaya sumur dapat berproduksi dengan rate produksi yang diinginkan
yaitu dengan cara menginjeksikan gas pada suatu kedalaman tertentu ke dalam
tubing, sehingga P wf pada dicapai.
Faktor-faktor
yang digunakan sebagai pertimbangan di dalam perencanaan continous gas lift :
1. Keperluan valve-valve continous flow.
2. Tekanan separator dan tekanan aliran well-head.
3. Tekanan dan volume injeksi gas.
4. Gradient unloading dan spasi valve.
5. Lokasi valve teratas
6. Ukuran tubing dan rate produksi.
7. Setting dan tekanan valve.
8. Type instalasi yang digunakan.
Secara
garis besar prosedur perencanaan continous gas lift dapat dibagi menjadi 3
bagian :
1. Penentuan titik injeksi
2. Penentuan spasi valve
3. Pemilihan valve dan pengaturan tekanan operasi valve
sebelumvalve dipasang.
Data-data
yang perlu untuk perencanaan antara lain :
1. Kedalaman sumur
2. Uuran casing dan tubing
3. Kondisi produksi seperti sand problem, paraffin
4. Ukuran dan panjang flow line dipermukaan.
5. Back pressure dari separator
6. Tekanan aliran di tubing (P t) yang
diperlukan
7. Rate produksi yang diperlukan
8. Water cut
9. Specific gravity gas injeksi
10. Volume
dari tekanan gas injeksi yang tersisa
11. Productivity
Index
12. Temperatur
dasar sumur
13. Temperatur
aliran dipermukaan
14. OAPI
minyak
15. Specific
gravity air
16. SBHP
(staic bottom hole pressure)
17. Spacific
gravity dan jumlah das yang terlarut pada berbagai tekanan.
18. BO pada
berbagai tekanan
19. Viskositas
minyak, tegangan permukaan dan sebagainya.
1-5.
2. LANGKAH-LANGKAH PENENTUAN TITIK INJEKSI
1. Plot kedalaman pada ordinat dengan titik nol diatas.
2. Plot tekanan pada absis dan makin kekanan makin besar.
3. Plot SBHP pada total kedalaman sumur
4. Dari harga PI hitung tekanan drwawdown, sesuai dengan rate
produksi yang diinginkan.
5. Tentuan P wf = P s –
drawdown, plot P wf ini sesuai dengan kedalaman sumur.
6. Dari P s buat grafik gradient tekanan statis sampai memotong
sumbu ordinat, titik perpotongan ini merupakan static fluid level sumur.
Apabila sumur tidak berisi fluida workover, titik ini dapat digunakan sebagai
titik letak valve yang pertama.
7. Dari P wf buat kurva penurunan tekanan
di bawah titik injeksi, kurva ini dapat dibuat berdasarkan :
- Methoda penentuan pressure drop aliran.
- Grafik pressure traverse curve, missal. Gilbert.
Cara
lain yang sering kali digunakan adalah dengan menganggap bahwa gradient tekanan
dibawah titik injeksi dapat didekati dengan gradient campuran air dan minyak.
Apabila cara terakhir ini dilakukan maka pembuatan garis gradient aliran
dibawah titik injeksi dibuat dengan cara menarik garis sejajar, dimulai dari
P wf, dengan garis statis yang diplot pada langkah 6.
8. Plot tekanan kick-off dipermukaan setelah dikurangi 50 psi
dan tekanan operasi permukaan (Pso) pada sumbu tekanan. Pso bisaanya diambil
100 psia lebih kecil dari pada tekanan yang tersedia.
9. Dari Pko – 50 dan Pso – 100 buat garis gradient tekanan gas
dengan memperhitungkan berat kolom gas (dengan menggunakan grafik). Perpanjang
grafik tersebut sampai memotong garis gradient aliran yang diperoleh dari
langkah 7.
10. Titik
perpotongan ini merupakan titik keseimbangan antara tekanan gas dalam annulus
dengan tekanan dalam tubing. Untuk instalasi gas lift terbuka, titik ini
merupakan tinggi kolom fluida dalam sumur saat operasi.
11. Tekanan
pada titik dari langkah 10 dikurangi 100 psi, kemudian perpanjang garis
gradient aliran dimulai dari titik akhir tersebut dengan panjang yang ekivalen
dengan 100 psi. titik yang terakhir ini merupakan titik injeksi gas.
Pengurangan
100 psi tersebut diperlukan untuk memastikan bahwa :
- gas dapat masuk ke dalam tubing
- proses unloading dapat dilaksanakan sampai titik injeksi.
12. Plot
P wh diabsis dipermukaan.
13. Hubungkan
P wh dipermukaan dengan titik injeksi dengan menggunakan
pressure treverse curve (dapat dipilih dari salah satu grafik Gilbert), grafik
tersebut menunjukkan GLR total yang diperlukan untuk memproduksi sumur.
Dengan
demikian gas yang diperlukan untuk injeksi dapat ditentukan dari :
GLR total –
GLR formasi
Apabila
pressure treverse curve tidak tersedia maka antara injeksi dan P wh dapat
ditarik garis lurus. Hal ini dilakukan hanya untuk perhitungan spasi valve, sedangkan
untuk perencanaan jumlah gas yang diinjeksikan harus digunakan pressure
treverse curve.
CONTOH 1 –
1
Kedalaman
sumur :
8000 ft
Rate
produksi yang
diinginkan :
700 BPD
Ukuran
tubing :
2-in
Water
cut :
95 %
OAPI
minyak :
40O API
SG
gas :
0,65
Tekanan
separator :
60 psig
Tekanan
aliran dikepala
sumur :
100 psig
THP :
100 psig
SBHP :
2900 psig
Produktivity
Index :
7
Tekanan kick-off
(Pho) :
950 psig
Tekanan
operas
dipermukaan :
900 psig
Temperatur
dipermukaan :
150 OF
Temperatur
dasar
sumur :
210 OF
Prosedur
Pengerjaan
1. Plot skala kedalaman (0 – 8000 ft) pada sumbu vertical
2. Plot skala tekanan pada sumbu horizontal
3. Tentukan BHP static ( = 2900 psig pada kedalaman 8000 ft)
4. Hitung drawdown :
PI = Drawdown =
=
100 psig
5. Tentukan titik P wf pada kedalaman 8000
ft
P wf =
P s – Drawdown = 2900 – 100 = 2800 psig
6. Dari titik P ws buat garis gradient statik hingga memotong
sumbu kedalaman.
- Gunakan grafik gradient for salt water – oil mix
Water cut
= 95
% minyak
40 OAPI
SG
oil = = 0,83
SG air
formasi = 1,07 (harga pada umumnya)
campuran = (0,95 x 1,70 + 0,05
x 0,83 ) 62,4
=
66,02
Jadi
gradient statistik = = 0,46 psi/ft
Perhitungan
diatas juga dapat kita pakai untuk mencari gradient tekanan statik.
Jika kita
menggunakan grafik langsung untuk harga 95% air dan 40 OAPI
minyak diperoleh gradient nya kira-kira juga 0,46 psi/ft.
- Misal diambil pada kedalaman 6000 ft, berarti untuk panjang
kolom cairan 2000 ft tekanan statik ny adalah :
= 2000 x
0,46 = 920 psi
Pada
kedalaman 6000 ft mempunyai tekanan static sebesar
=
2900 – (2000 x 0,46) = 1980 psig
- Plot titik ini (1980 psi) pada kedalaman 6000 ft, kemudian
dari SBHP tarik melalui titik ini hingga sumbu ordinat.
7. Dari titik P wf ( = 2800 psig) tarik /
buat garis gradient aliran dengan mempergunakan grafik gradient aliran (sesuai
dengan data ukuran tubing, GLR dan laju produksi yang diinginkan) atau buat
garis melalui titik P wf dan sejajar dengan garis gradient
tekanan statik.
8. Plot titik tekanan (P ko – 50) dan data
tekanan surface operating kurang 100 psig. Dalam hal ini :
* Pko – 50
= 950 – 50 = 900 psig
* Tekanan
operasi dipermukaan – 100 = 900 – 100 = 800 psig
kedua
titik ini diplot pada kedalaman nol.
9. Buat garis gradient tekanan (kebawah) dari titik Pko – 50
dan Pso dengan memperhitungkan berat kolom gas. Untuk ini digunakan grafik A-2.
SG
gas =
0,65 ) didapat
gradient gas = 21,2 psi per 1000 ft
Pko –
50 = 900 )
SG
gas =
0,65 ) didapat
gradient gas = 19 psi/1000ft
Pso =
800 )
- Ambil untuk kedalaman 2000 ft untuk Pko = 900 psig maka
tekanan pada 2000 ft = 900 + 2 x 21,2 = 942,4 psi
- Plot 942,4 psi pada kedalaman 2000 ft
- Untuk Pso =800 psi, missal kota ambil untuk kedalaman 3000
ft maka tekanannya = 8000 + 3 x 19 = 857 psi
- Plot 857 psi pada kedalaman 3000 ft.
10. Potongkan
garis-garis yang dibuat pada langkah 7 dan 9 diatas. Perpotongan garis
operating casing pressure dan garis tekanan aliran (dalam langkah 7) merupakan
“titik keseimbangan” (antara tekanan dalam casing dengan dalam tubing).
11. Tekanan
pada titik keseimbangan dikurangi 100 psig (= 875 – 100 = 775 psi). Garis 775
psi ini akan berpotongan dengan garis gradient tekanan aliran dan perpotongan
ini disebut “Point of Injection” (titik injeksi gas). Didapatkan bahwa titik
injeksi terletak pada kedalaman 3620 feets.
1-5.3. PENENTUAN
LETAK VALVE
Perencanaan
letak gas lift valve tergantung pada faktor-faktor berikut :
1. Jenis valve yang digunakan.
Apabila
balanced valve yang digunakan maka tekanan pada valve adalah harus Pso – (15
s/d 25 psi per valve)
Apabila
unbalanced valve yang digunakan maka tekanan pada valve sebaiknya Pso – 10 psi
per valve.
2. Apakah fluida yang akan diproduksikan akan dialirkan
ketempat bertekanan atmosdfir atau tidak. Bisaanya ini hanya untuk proses
unloading saja.
Jika
proses unloading dilakukan ke tangki pengumpul dengan tekanan sama dengan
tekanan atmosfer dan berlangsung sampai injeksi gas mencapai dasar maka letak
masing-masing valve bisa diperdalam.
3. Statik fluid level dan apakah sumur berisi fluida workover
Jika
static fluid level lebih rendah dari (P c – P t)
/ Gs, maka valve pertama bisa dipasang pada kedalaman static fluid level.
4. Apakah gas yang tersedia tidak terbatas untuk proses
unloading yang akan dilakukan. Ini akan mempengaruhi spacing (letak dan jarak
antara valve), yaitu dalam menentukan gradient unloading minimum didalam
tubing.
Sebagaimana
telah dikemukakan bahwa penentuan letak dan jarak antar valve dapat dilakukan
dengan methode grafis dan methode analitis.
Kedua
methode tersebut akan kita bicarakan dan untuk mempersingkat uraian maka
prosedur kerja akan dibicarakan sekaligus diberikan dengan menggunakan contoh.
Didalam
perencanaan penentuan letak velve, perlulah kita menentukan lebih dahulu jumlah
gas yang perlu untuk pelaksanaan gaslift ini. Kita perhatikan lagi soal lalu.
Titik injeksi ada pada kedalaman 3620 ft dengan tekanan 775 psi, dari data ini
dan dengan menggunakan grafik gradient tekanan untuk aliran vertical, dalam hal
ini grafik C 198, akan disa diperoleh Gas Liquid Ratio (GLR) hasil pengangkatan
buatan ini, sekaligus garis gradient aliran diatas titik injeksi juga bisa
dibuat.
Prosedur :
(dalam soal ini anggap GLR mula = 50 cuft/bbl)
1-5.4. PENENTUAN
SPACING VALVE PADA CONTINOUS GAS LIFT
Dalam
penentuan spacing valve dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
1. Secara grafis
2. Secara analitis
Faktor-faktor
yang mempengaruhi spacing continous gas lift valves :
1.
Type dari
pada valve gas lift yang digunakan
a. Balanced valve
b. Unbalanced valve
2.
Apakah
pada proses unloading fluidadialirkan ke pit atau ke block station, apabila
fluida dialirkan ke pit, maka THP = 0
3.
Gradient
fluida yang digunakan untuk mematikan sumur
4.
Statik
fluida level dari pada fluida dalam sumur.
MACAM-MACAM
PENENTUAN SPACING BALANCED VALVES
1. SECARA GRAFIS
a. Gambarkan garis gradient fluida dalam sumur, mulai dari THP
= 0 atau pada THP tertentu.
b. Perpanjangan garis tersebut sampai memotong garis gradient
gas yaitu Pko– 50, titik potong ini merupakan letak dari valve pertama.
c. Buat garis horizontal kiri, dari titil valve pertama sampai
memotong garis gradient aliran diatas titik injeksi.
d. Dari titik potong pada langkah-langkah dibuat garis sejajar
dengan garis pada langkah 2 sampai memotong (Pko – 50) – 25 titik ini adalah
tempat valve kedua.
e. Kurangi tekanan valve kedua dengan 25 psi, kemudian buat
gasir ke bawah sejajar dengan gariske bawah sejajar dengan garis gradient gas
(Pko– 50).
f. Dari titik valve kedua, buat garis horizontal ke kiri sampai
memotong garis gradient aliran diatas titik injeksi.
g. Dari titik potong langkah 6 buat garis sejajar dengan garis
langkar b sampai memotong garis dari langkah e, titik potong ini merupakan
letak valve ke tiga.
h. Ulangi langkah e, f, g sampai tercapai titik injeksi.
i. Tambahkan satu atau dua valve di bawah titik injeksi untuk
keperluan yang akan daang apabila produktivitas sumur telah menurun.
CONTOH
Merupakan kelanjutan contoh penentuan titik injeksi, bila
gradient fluida workover = 0,5 psi/ft, proses unloading fluida dialirkan ke
pit THP
= 0
JAWAB
Misal
pada 1000 ft, tekanan fluida = 1000 x 0,5 = 500 psi
Dengan
menarik garis horizontal kekiri dari spacing valve telah didapatkan akan kedalaman
dari tiap-tiap valve.
2. SECARA ANALITIS
- Cara ini dilakukan apabila data sumur (PI, Pt dan
sebagainya) tidak tersedia.
- Data yang diperlukan antara lain.
1. Pko
2. Pwh / THP
3. Gradient unloading (dicari dengan menggunakan grafik)
4. Gradient static fluida yang mematikan sumur.
- Persamaan-persamaan yang digunakan :
1. Dv1 =
dimana
: Dv1 =
kedalaman valve pertama, ft
Pko =
tekanan kick-off yang tersedia, psig
G S =
gradient fluida statis dalam sumur psi/ft
THP =
tubing head pressure
Diambil
= 0, untuk press unloading dimana fluida dialirkan ke pit atau suatu harga
tertentu apabila dialirkan ke block station.
2. Dv2 = Dv1 +
dimana
: Pso 1 = surface
operating pressure valve pertama atau Pso yang trsedia
THP =
tidak sama dengan nol lagi
Gu =
gradient unloading yang dicari dari grafik.
3.
Dv3 = Dv2 +
4.
Dv4 = Dv3 +
5.
Dv5 = Dv4 +
dan
seterusnya
dimana : Pso 2 =
Pso –
25 )
Pso 3 =
Pso –
50 ) untuk
balanced velve
Pso 4 =
Pso – 75 dst )
CONTOH
Kedalaman
sumur :
2000 ft
Rate
yang
diinginkan :
700 BPD
Water
cut :
95 %
Ukuran
tubing :
2-in
Pwh :
100 psig
Gs :
0,5 psi/ft
Pko :
950 psig
Pso :
900 psig
Preses
unloading ke pit
Tentukan
spacing valve untuk balanced valve ?
Penyelesaian
Dv1 = = 1800 ft
Dari
grafik untuk q = 700 BPD, Qt = 2 in didapatkan
Gu
= 0,16 psi/ft
Dv2 =
1800 + = 2824 ft
Dv3 =
2824 + = 3470 ft
Dv4 =
3470 + = 3860 ft
dan
seterusnya
LANGKAH-LANGKAH
PENENTUAN SPASI UNBALANCED VALVE
1. SECARA GRAFIS
a. Kurangi Pso dengan 100 psig dan buat garis gradient gas
sesuai dengan berat kolom gas, garis ini disebut Pc design.
b. Tambah THP dengan 200 psig (pada kedalaman nol) kemudian
hubungkan titik ini dengan titik injeksi, garis ini disebut Pt design.
c. Buat garis gradient fluida yang mematikan sumur mulai dari
THP = 0 atau THP = tertentu.
d. Perpanjang garis tersebut sampai memotong garis Pko – 50 titik
ini adalah titik valve pertama.
e. Buat garis horizontal ke kiri sampai memotong Pt design.
f. Dari perpotongan langkah e, buat garis sejajar dengan garis
dari langkah c sampai memotong Pc design, titik valve kedua.
g. Ulangi langkah-langkah tersebut antara Pt design dengan Pc
design, sampai titik injeksi tercapai.
2. SECARA ANALITIS
Persamaan
yang digunakan sama seperti balanced valve hanya untuk Dv2, Dv3 dan seterusnya
adalah konstan dan jika perbedaan kedalaman antara 2 valve berurutan =300 ft
maka perhitungan dihentikan.
Apabila
selisih kedalamannya < 300 ft, maka valve diletakkan pada 100 ft dibawah
tempat yang seharusnya dan perhitungan dihentikan.
Soal – Soal
1. Kedalaman
sumur :
6000 ft
Produksi
yang diinginkan :
400 BPD
Diameter
tubing :
2 7/8-in (2 ½ - in ID)
PI :
1
SBHP :
2500 psi
Dengan
menggunakan continous balanced gas lift valve rencanakan titik injeksi gas
spacing valve.
2. Kedalaman
sumur :
8500 ft
Pws :
2600 psig
PI :
1,5
Pt :
150 psig
Rate
yang
diinginkan :
6000 BPD (90% air formasi)
Diameter
tubing
nominal : 2-in
Carilah
titik injeksi untuk Pso = 400, 800, 1200 dan 1500 psig ?
1-5.5. PENENTUAN
SPACING VALVE PADA INTERMITTENT GAS LIFT
Langkah-langkah penentuan spacing Balanced Valve
1. SECARA GRAFIS
Langkah-langkah
yang harus dilakukan untuk perencanaan :
a. Plot tekanan pada absis dan kedalaman pada ordinat
b. Plot Pko – 50 pada permukaan
c. Tentukan gradient gas (dengan grafik) dan buat garis
gradient gas dalam sumur mulai dari Pko – 50 dan perpanjangan garis tersebut
sampai didasar sumur.
d. Plot Pso dipermukaan dan buat garis gradient seperti langkah
c
e. Plot tekanan tubing di permukaan (untuk intermittent gas
lift, tekanan ini equivalent dengan tekanan separator)
f. Tentukan gradient unloading dengan menggunakan grafik sesuai
dengan ukuran tubing dan rate yang diinginkan.
g. Plot garis gradient unloading, berdasarkan Gu dari langkah f
mulai dari THP ( = 0 / sesuatu harga tertentu) perpanjang garis tersebut sampai
dasar sumur.
Penentuan
spasi valve
h. Tentukan kondisi sumur, apakah dimatikan dengan fluida atau
tidak.
a. Apabila sumur tidak dimatikan, maka static fluid level akan
merupakan letak dari pada valve ke.1
b. Apabila sumur dimatikan dengan fluida sampai dipermukaan,
buat garis gradient fluida yang mematikan sumur mula-mula dari permukaan,
sesuai dengan gradient statid (Gs)
i. Perpanjang garis tersebut (dari langkah g) sampai memotong
garis Pko-50, titik p[otong ini merupakan letak valve ke satu.
j. Dari titik potong tersebut ( i ) buat garis horizontal
kekiri sampai memotong garis gradient unloading.
k. Dari titik potong ( j ) buat garis sejajar dengan garis
gradient fluida yang mematikan sumur ( h ) sampai memotong garis Pko – 50,
titik ini merupakan letak valve ke 2
l. Buat garis (Pko – 75), (Pko – 100) dan seterusnya dan Pso –
25, Pso – 50 dan seterusnya, yang masing-masing sejajar dengan (Pko – 50) dan
Pso.
m. Lanjutkan prosedur I, j, dan k antara garis gradient –
unloading dengan masing-masing garis pada langkah l sampai dasar sumur
tercapai.
CONTOH
Ukuran
tubing :
2-in nominal
Ukuran
casing :
5 ½-in, 17 lb/ft
Tekanan
separator :
50 psig
Tekanan
kick-off :
850 psig
Tekanan
operasi :
800 psig
SG
gas :
0,6
OAPI
minyak :
35 OAPI
Temperatur
formasi :
192 OF
Temperatur
permukaan (aliran) : 80 OF
Kedalaman
packer :
7030 ft
Kedalaman
perforasi :
7050 - 7030 ft
Gradient
kill
fluid :
0,5 psi/ft
Proses
unloading dialirkan ke pit
Rate
produksi yang diinginkan : 100 BPD
Rencanakan
spasi valve untuk intermittent Unbalanced
Penyelesaian
1. Plot kedalaman dan tekanan
2. Plot Pko – 50, 850 – 50 = 800 psig
3. Berat kolom gas untuk :
P =
800
psig ) gradient
gas = 17 psi/1000 ft
SG
=
0,6 )
4. Plot Pso = 8000 psig
5. Plot tekanan tubing = 50 psig
6. Tentukan gradient unloading
Untuk
: q =
0,5 BPD ) 0,04 psi/ft
Qt =
2-in )
7. Buat garis gradient unloading dari THP
8. Fluida unloading dialirkan ke pit
Gradient
statis = 0,5 psi/ft
Buat
garis gradient statis dari titik tekanan 0 sampai memotong garis Pko – 50 =
psig, dan ini titik letak valve pertama.
9. Buat garis horizontal kekiri dari titik valve pertama sampai
memotong garis gradient unloading, kemudian dibuat garis sejajar dengan garis
gradient ( 8 ) sampai memotong garis Pko – 50, ini letak valve ke dua.
dan
seterusnya ikuti seperti dalam prosedur.
Gambar
27
Penentuan
valve gas lift secara grafis
Kemudian
tabulasikan hasil-hasilnya.
2. SECARA ANALITIS
Dengan
menggunakan contoh seperti diatas dapat pada grafis sistem :
-
Dv1 = = 1600 ft
-
Dv2 = Dv1 +
=
1600 + = 2972 ft
-
Dv3 = Dv2 +
=
1600 + = 4182 ft
dan
seterusnya.
Langkah-langkah
penentuan spasi Unbalanced valve
Prosedur
pengerjaan adalah sebagai berikut :
1. Plot pengerjaan dan kedalaman.
2. Plot Pko – 50 di permukaan
3. Tentukan gradient gas melalui mulai dari Pko – 50 sampai
dasar.
4. Plot Pso dipermukaan dan dibuat garis gradient gas seperti
pada langkah 3
5. Tentukan Pc design yaitu Pso – 100 dan dibuat garis gradient
gas seperti langkah 3
6. Plot THP di permukaan
7. Tentukan gradient unloading dari grafik
8. Buat garis gradient unloading dan perpanjang sampai dasar
sumur
Perencanaan
Spasi Valve
9. Apabila sumur dimatikan dengan fluida sampai permukaan maka
buat garis gradient fluida tersebut mulai dari THP = 0 (apabila dialirkan ke
pit) atau THP tertentu.
10. Perpanjang
garis tersebut sampai memotong garis Pko – 50 titik potong ini adalah letak
valve pertama.
11. Dari
titik potong ini buat garis horizontal kekiri sampai memotong garis gradient
unloading.
12. Dari
titik potong langkah 11, buat garis sejajar dengan garis fluida yang mematikan
sumur sampai memotong garis Pc design ( 5 ).
13. Lanjutkan
prosedur tersebut, antara Pc design dengan garis unloading.
14. Buat
tabulasi hasilnya dari masing-masing valve.
15. Gambarkan
gradient temperature kemudian tabulasikan hasilnya dari masing-masing valve.
Apabila valve yang digunakan spring loaded hal ini perlu dilakukan.
16. Perkirakan
tekanan penutupan dipermukaan (psc) dengan jalan menetapkan tekanan penutupan
permukaan konstan atau dikurangi 10 psi tiap-tiapo valve (Psc) jika tidak
merencanakan untuk sistem dual.


Intan Musya'Adah
BalasHapusXII Produksi Migas
SMK Negeri 3 Mandau
Sri wahyuni
BalasHapusXII Produksi Migas
Smkn 3 Mandau
Sarihna Tumanggor
BalasHapusXII. Produksi Migas
SMK Negeri 3 Mandau
Rismawati
BalasHapusXII produksi migas
SMKN 3 mandau
Destalina Margareta Manurung
BalasHapusXII Produksi Migas
SMKN 3 MANDAU
Wilda Amelia
BalasHapusXll produksi migas
Smk N 3 mandau
Tika Hartitin
BalasHapusXII produksi migas
SMKN 3 MANDAU
Randi Saputra
BalasHapusXII produksi migas
SMKN 3 Mandau
Nama: Teguh erianta
BalasHapusKls: XII Produksi migas
SMK 3 MANDAU
Nama: Dedi wahyudi
BalasHapusKls: XII produksi migas
SMKN 3 mandau
Nama: Eka sang dwi andi wulat
BalasHapusKelas: XII Produksi migas
SMK N 3 MANDAU
Nama:Mas pramuja
BalasHapusKelas :XII produksi migas
SMKN 3 mandau
Nama:Yogi Billyam Hutabarat
BalasHapusKelas:XII Produksi Migas
Smkn3 Mandau
Ferry ApriantoAprianto XII produksi migas
BalasHapusSMK N 3 mandau
Rizky dermawan
HapusXII produksi migas
SMK negeri 3 Mandau
Rizky dermawan
BalasHapusXII produksi migas
SMK N 3 Mandau